Hidup harus selalu optimis

Tadi pagi seorang teman saya menghampiri saya di ruangan kerja, lumayan lama kami ngobrol tentang bagaimana nasibnya di tempat kami bekerja sekarang ini. Beliau mengatakan bahwa beliau sudah tidak betah dan ingin di-PHK dari tempat kami bekerja. Terlalu lama menunggu keputusan dari atasan kami yang membuatnya selalu gundah. Beliau ingin segera di-PHK dan kembali ke kampung halaman. Kalau saja beliau mengambil keputusan untuk mengundurkan diri, itu sama saja beliau rugi. Karena perhitungan uang PHK berbeda dengan perhitungan uang dari pengunduran diri seorang karyawan.

Beliau sudah terhitung lama bekerja di tempat kerja kami. Sudah lebih dari 18 tahun, dan sebelum perusahaan ini berubah nama, beliau sangat menikmati pekerjaannya. Selalu semangat untuk berangkat bekerja, meskipun pekerjaan yang dikerjakannya terasa berat dan banyak. Berbeda jauh dengan sekarang, baru melihat jam ketika mau berangkat saja sudah bingung, apa yang akan dikerjakan nanti. Karena volume pekerjaannya sekarang sudah agak berkurang, dan tidak seperti dulu lagi. Beliau juga mengatakan jika usahanya di rumah sudah berjalan normal dan keuntungannya bisa melebihi dari gaji yang diterimanya setiap bulan, mungkin beliau sudah keluar sejak lama.

Setelah saya bercerita tentang bagaimana sistem kerja di tempat kami. Beliau agak sedikit sedih. Dulu memang pernah dibicarakan ketika meeting, bahwa akan ada pengurangan karyawan. Tapi mengenai waktu dan siapa belum jelas, baru sedikit kabar saja. Beliau ingin sekali mengharapkan di-PHK, sampai beliau bilang, “Apakah doa orang jelek itu tidak dikabulkan oleh Tuhan, ya?”. Lalu saya mengatakan ke beliau, “Bukan seperti itu pak, kalau berdoa itu lebih baik mengharapkan yang baik-baik saja. Memohon supaya diberi petunjuk supaya bapak tidak terlalu gundah menghadapi ini setiap hari”. Beliau terdiam sejenak dan berpikir, dan saya hanya bisa memberi semangat, “Pak, tidak usah terlalu dipikirkan, toh juga bapak masih terima gaji utuh, tidak dipotong apa pun, hanya pajak saja. Jadi dinikmati pekerjaan ini, meskipun bapak sudah muak dengan pekerjaan ini. Bersyukur di tempat kerja ini masih layak, daripada di tempat lain yang amburadul.”

Lalu beliau bilang, “Kalau saya lihat, mbak selalu optimis ya dengan pekerjaan?”. Saya jawab, “Pak, kita harus selalu optimis dalam hal apa pun. Masalah pekerjaan, semuanya harus dinikmati. Jangan sampai kita diperdaya oleh keadaan, dibutakan dengan emosi. Saya juga pernah sakit hati, tapi saya pikir lagi, saya resapi sakit hati itu ada hikmahnya. Kenapa sampai orang lain berkata seperti itu, itu pembelajaran untuk saya. Jadi semakin mengerti apa yang harus saya lakukan dan apa yang tidak perlu saya lakukan. Karena hidup adalah untuk belajar”.

“Tapi saya malah jadi tambah sedih mbak ?”, jawab beliau. “Sudahlah pak, tidak perlu dipikirkan lagi, nanti tambah stress, bisa mati berdiri kalau begitu”, kata saya.

Sejenak kami terdiam, entah apa yang ada di pikiran beliau ketika itu. Sambil sesekali beliau bilang, “Mbak, itu kerjaannya sembari dikerjakan”. Dan saya hanya menjawab, “Tidak apa-apa, santai saja”.

Setelah beberapa saat beliau pamitan, karena ingin pergi ke rumah temannya di Jakarta. Saya melihat masih ada raut kesedihan di wajah beliau. Semoga beliau mengerti dengan ucapan saya tadi.

Hidup memang harus selalu optimis, jika kita ingin mencapai suatu tujuan. Masalah dan persoalan adalah hambatan dalam mencapai kesuksesan. Jika kita yakin, mampu pasti bisa melalui itu semua.

Optimis! Say no to Pesimis.

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: