Pak Marsan dan Gerobak Sroto

Tangannya masih cekatan untuk menyiapkan mi putih, memotong ketupat, menyuwir daging ayam, memberi sedikit kecambah (tauge) dan daun bawang pada sebuah mangkuk keramik putih bergambar ayam jago. Lalu menuangkan kuah panas dari dandang (panci besar) ke dalam mangkuk. Kemudian menaburkan remasan kerupuk dari ubi berwarna merah putih di atas sajian tadi. Mengantarkan kepada pembeli yang sejak tadi menunggu pesanan. Satu mangkuk sroto khas Purbalingga siap dihidangkan di meja.

Sesekali beliau menyeka keringatnya karena cuaca waktu itu terik dan sering dekat dengan kompor yang sejak pagi menyala untuk memanaskan kuah srotonya. Asap dari dandang panas itu yang membuat beliau berkeringat. Sudah lebih dari 20 tahun beliau berjualan sroto.

Semangat dari bapak ini patut dicontoh. Tidak ada kata menyerah dalam hidup beliau untuk menafkahi keluarganya. Saya kadang kalah dan malu dengan beliau, di umur yang masih muda ini kenapa saya harus mengeluh. Padahal saya tidak bekerja berat seperti beliau. Hanya duduk menghadap komputer, menghitung, dan mengetik dengan suasana yang sejuk karena AC tanpa perlu berpanas-panas dan menunggu pembeli datang.

Bagaimana dengan anda, apakah anda bersyukur dengan pekerjaan yang dikerjakan sekarang ini? Mari kita bersyukur dan terus bersyukur dengan apa yang kita kerjakan sekarang, di mana dan seberat apa pun itu.

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: