Pemikiran sempit

Setiap orang mempunyai pola pikir dan cara pandang yang berbeda-beda dalam menyikapi sebuah postingan di media sosial mana pun. Yang paling parah menurut saya adalah komentar pada artikel di Yahoo. Di sana orang bebas berkomentar tanpa dibatasi, berbicara seenak mulutnya sendiri. Saya pun risih membaca komentar yang sering mengandung unsur SARA, menjelek-jelekkan, mengolok-olok, seolah-olah merasa paling benar dan paling suci, parah sekali. Dan itu tidak disensor, ada sih, tapi cuma beberapa saja, itu pun kalau sudah kelewatan. Dan komentar yang seperti itu menandakan kurangnya wawasan dan pendidikan seseorang.

Di media sosial lainnya pun begitu. Sebagai contoh, hanya karena menerbitkan sebuah tautan artikel tentang sebuah timun, pisang, atau tentang seorang perempuan yang menyetir mobil, foto tokoh dunia, dan lain sebagainya dianggap sebagai pelecehan yang mengaitkan semuanya dengan rasis. Padahal yang ditulisnya itu hanyalah sebuah tautan dari berita yang sedang ramai diperbincangkan. Serta menuduh seolah-olah orang yang menerbitkan artikel tersebut sebagai provokatornya. Sungguh sangat disayangkan jika orang-orang masih mempunyai pemikiran dangkal dan tidak mencermati dengan seksama apa yang sedang dibicarakan tersebut. Terkecuali kalau artikel tersebut benar-benar mengandung unsur SARA, menjelek-jelekkan suatu kelompok. Itu baru boleh dipermasalahkan.

Semua kembali ke pribadi masing-masing. Saya pernah membaca sebuah artikel dari salah satu blogger ternama yaitu om Jarar Siahaan tentang “Otak Mini”. Di dalam postingannya, beliau menyebutkan bahwa orang yang mempunyai “Otak Mini” dalam artian berpikiran sempit adalah apabila dalam menafsirkan sebuah postingan pasti akan menanggapinya dengan terlalu serius, atau dengan memberikan pendapat yang melenceng dari arah pembicaraan. Bahkan sampai mengolok-olok, menjelek-jelekkan si pembuat postingan tersebut. Menganggap artikel yang dipostingnya sebuah rasis, sebuah pelecehan terhadap sebuah kelompok atau individu.

Jika kita mampu berpikir jernih, mampu melihat keseluruhan artikel dari sisi mana pun, tentu akan beda cara menanggapinya. Seringkali orang hanya membaca judulnya saja, tidak membaca keseluruhan kalimat yang ada pada postingan. Saya sering menemukan komentar di postingan saya di Google+. Pernah suatu ketika ada yang menanyakan di mana lokasi gambar yang saya posting itu. Sudah jelas tertulis pada baris pertama menyebutkan lokasi gambar tersebut diambil, tapi masih saja bertanya. Entah itu iseng atau hanya karena memang tidak membaca secara keseluruhan.

Sepatutnya jika menanggapi sebuah postingan diperlukan pemikiran dan pemahaman tingkat dewa. Jangan seperti “katak dalam tempurung”, sok tahu tapi tidak mau tahu. Hasilnya ya, menanggapi postingan dengan berkomentar asal. Semakin kita meladeni orang yang mempunyai pemikiran dangkal, semakin terlihat betapa bodohnya orang tersebut.

Mengutip kalimat dari “Raja Iblis” Jarar Siahaan :

“Orang dewasa adalah ia yang tahu membedakan kapan mesti bercanda dan kapan mesti serius.”

Iklan
Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. Anonim

     /  28 Oktober 2012

    saya juga sudah sangat sering menghadapi hal2 seperti itu,, kadang saya hanya menganggap sebagai angin lalu,, yaah sekedar utk menghibur diri agar tidak emosi,, dan anggap org yg koment seperti itu anak kecil atau orang gila,, hehehehe

    Balas

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: