Anak petani yang menjadi wanita karir #1

Tubuhnya yang kurus, tinggi, dengan kulit kecoklat-coklatan karena terlalu sering kena sinar matahari. Ia berjalan menyusuri pematang sawah sambil membawa sebuah kantong kresek berwarna hitam. Dengan mengenakan kaos putih bergambar lambang partai dan celana pendek kotak-kotak selutut sambil mengenakan caping (penutup kepala dari anyaman bambu). Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi. Sinar matahari sudah terasa panas karena cuaca sedang cerah-cerahnya. Sesekali ia membetulkan ikatan rambutnya yang mulai kendur. Rambut lurus, panjang, dan hitam sebagai mahkota yang menghiasi tubuhnya yang perkasa dan lembut.

Ia berhenti sejenak sambil melihat sekeliling di tengah sawah. Banyak orang-orang yang sedang memanen padi di sawah. Ketika itu sedang musim panen di sana. Ia kemudian menghampiri sawah yang sudah dipanen padinya. Sambil mencari sisa padi yang jatuh karena dibawa oleh orang yang menyiangi padi tadi. Satu per satu tangkai padi yang berisi padi utuh dipungutnya lalu dimasukkan ke dalam kantong kresek yang ia bawa tadi. Hatinya senang karena banyak tangkai padi berisi yang jatuh. “Lumayan dapat banyak”, pikirnya. Ia kumpulkan sampai mendapat banyak tangkai padi yang berisi. Matahari sudah mulai terik, waktunya untuk kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, sesekali tangannya yang jahil memetik tangkai padi berisi di sawah yang belum dipanen padinya. “Ah, cuma ambil sedikit saja, pasti yang punya tidak akan marah”, pikirnya. Tapi ada rasa bersalah pada dirinya, itu sama saja termasuk mencuri, meskipun hanya beberapa tangkai padi yang ia ambil.

Sesampainya di rumah, ia buka bungkusan tadi memisahkan antara tangkai dengan gabah (butiran padi). Gabah tadi lalu dikumpulkan di cething (bakul ukuran besar). Syukurlah hari itu ia mendapat banyak gabah. Lalu ia tambahkan gabah itu ke dalam karung gabah milik ibunya yang juga ikut mencari gabah di sawah, istilahnya ngasag.

Setiap musim panen banyak orang-orang di desa yang bekerja dadakan di sawah untuk menambah penghasilan. Yah, itung-itung untuk nambah-nambah beras. Jadi tidak perlu beli lagi di warung. Apalagi kalau padi yang ditanam itu kualitas unggulan, kan lumayan. Ia lakukan hanya ketika hari libur saja.

Usianya masih belia, masih mengenyam pendidikan di SMP yang boleh dikatakan bagus di kotanya. Setiap hari ia selalu berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah jalan kaki dengan jarak kurang lebih 3 kilometer. Bersama temannya yang beda sekolah, ia berangkat pagi-pagi. Menyusuri sawah dan jalan raya yang waktu itu belum ramai seperti sekarang. Masih beruntung jika hari itu tidak hujan dan cuaca cerah. Jika hujan harus menggunakan payung kadang sampai basah baju seragamnya yang kusam dan kucel karena tidak disetrika. Bagaimana mau disetrika, listrik saja belum ada dan masih menggunakan lampu minyak. Ia memang bukan dari keluarga kaya raya. Ketika duduk di bangku sekolah dasar ia dan keluarganya sudah pernah merasakan hidup yang lebih baik sebelum akhirnya ada sesuatu hal yang membuat ia dan keluarganya menjadi seperti itu. Tapi semua itu tidak menyurutkan langkahnya untuk belajar dan menimba ilmu di sekolah. Bersyukur ia bisa melanjutkan sekolah ke SMP favoritnya.

Lulus sekolah menengah pertama ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu sekolah menengah kejuruan. Ketika mulai masuk ke sekolah itu beberapa saudaranya selalu menghina, mencemooh dirinya dan orang tuanya. Mereka mengatakan, “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, kaya mau jadi pegawai saja”. Sedih rasanya ia mendengar ucapan seperti itu. Dalam hati ia hanya bisa berucap, “Semoga doa kalian untuk saya terkabul, semoga saya bisa menjadi pegawai seperti yang kalian ucapkan itu”. Dan pada akhirnya anak-anak mereka pun mengikuti jejaknya, melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, meskipun ada beberapa yang hanya sampai lulus sekolah menengah pertama saja.

Tahun berganti tahun hingga ia lulus dari sekolah menengah kejuruan nomor satu di kotanya dengan hasil yang memuaskan. Bersyukur ia memiliki seorang ibu yang sangat mulia. Berjuang sekuat tenaga untuk anak-anaknya yang hanya dua orang saja untuk menjadi anak yang sukses. Ibunya mempunyai cita-cita jika anak-anaknya harus lebih baik nasibnya dan bisa menyekolahkan sampai tingkat atas. Sampai ibunya berjuang bekerja di Jakarta menjadi assisten di rumah orang hanya untuk menginginkan anaknya menjadi lebih baik dari dirinya. Ia sangat kagum dan salut dengan ibunya, tidak ada perempuan yang sekuat dan setangguh ibunya ketika itu.

Perjuangannya belum selesai. Setelah lulus sekolah menengah kejuruan ia mencoba mencari pekerjaan, melamar pekerjaan yang dekat dengan tempat tinggalnya. Banyak pabrik bulu mata palsu dan keramik di sana. Tapi tak satu pun yang menarik perhatiannya untuk melamar di tempat kerja itu karena ia sebenarnya menginginkan untuk merantau jauh dari tempat ia lahir.

Sambil menunggu waktu yang tepat, ia berjalan menuju ke perpustakaan. Ia memang senang membaca, buku yang digemarinya sejak duduk di sekolah dasar adalah buku komik. Waktu itu buku komik ia pinjam dari penyewaan buku yang lokasinya dekat dengan sekolahnya. Karena hampir semua buku komik sudah ia baca. Ia beralih ke buku cerita lain. Ia tidak begitu suka dengan buku novel karena halamannya terlalu banyak. Ia lebih suka buku seri. Di perpustakaan ia masih bimbang dengan hidupnya. Belum terpikir ketika itu ia ingin ke mana dan mau apa. Selepas keluar dari perpustakaan ia mampir sebentar ke kantor pos yang letaknya bersebelahan dengan perpustakaan itu tadi untuk membeli perangko untuk surat kepada sahabatnya ketika duduk di bangku sekolah dasar yang sudah lama pindah ke kota lain karena pindah tugas orang tuanya.

Ketika sedang membeli perangko, tiba-tiba seorang pegawai di kantor pos memanggilnya. Ia kenal dengan semua pegawai di kantor pos itu karena ia pernah Praktek Kerja Lapangan di sana selama tiga bulan. Pegawai pos itu seorang ibu-ibu namanya sama dengannya hanya beda nama belakangnya. Ibu menawarkan kepadanya untuk bekerja sebagai penjaga wartel dan warung kecil di rumahnya tinggal. Ia menyebutkan berapa upah yang ia terima selama sebulan. Ada kelegaan pada dirinya, ada rejeki yang datang tidak diduga. Meskipun hanya sedikit upah yang akan ia terima nanti, ia menerima tawaran itu sambil mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.

Hari pertama ia mulai kerja dari pagi pukul 07.00 sampai dengan pukul 05.00 sore. Kemudian malamnya ia lanjutkan bekerja membantu ayahnya yang berjualan nasi goreng. Satu bulan ia bekerja ia mendapat upah sebesar Rp 165.000,- tahun 2004 silam. Jumlah yang lumayan untuknya, meskipun tidak sebanding dengan pekerjaannya. Wajarlah, berapa sih keuntungan usaha wartel ketika itu? Mungkin belum cukup untuk menutupi biaya macam-macam.

Ada rasa bosan ketika menjalaninya. Hingga suatu ketika ia mendapat informasi dari sekolahnya bahwa ada lowongan pekerjaan di Jakarta. Satu hari ia ijin tidak masuk kerja, itu diperbolehkan oleh si pemilik wartel dengan alasan ada keperluan mendesak. Ia datangi sekolah yang memberi informasi itu, jaraknya lumayan jauh, kurang lebih 30 menit jika menggunakan kendaraan umum. Sesampainya di sana ia menanyakan kepada petugas di sekolah itu. Memang benar ada dan ia disuruh untuk meninggalkan surat lamaran beserta berkas-berkas yang lain untuk di seleksi. Dan benar, beberapa hari kemudian ada panggilan untuk wawancara dan tes kesehatan. Banyak peserta yang ikut dalam seleksi dan wawancara itu. Dari sekian ratus orang hanya beberapa orang saja yang diterima termasuk ia sendiri. Bersyukur ia diterima di tempat kerja yang katanya adalah sebuah restoran di Jakarta.

Menjelang keberangkatannya ke Jakarta, ia berpamitan kepada si pemilik wartel itu yang tidak lain adalah pegawai pos yang sudah ia kenal. Ia mengatakan kepada ibu itu kalau ia sudah diterima bekerja. Ibu itu memperbolehkan, tapi ada sedikit kesedihan pada dirinya. Karena menurut keterangan dari orang-orang yang tinggal di sekitar rumahnya, pekerja yang bekerja di wartel dan warungnya itu sudah seringkali ganti-ganti. Mungkin karena tidak betah dengan sikap ibu-ibu itu yang terlalu galak. Tapi ibu itu tidak berani galak dengannya karena ibu itu tahu kalau ia pandai mengoperasikan komputer, sering ia dimintai tolong untuk memindahkan data dari komputer ke disket dan yang lainnya. Mungkin ia sedih karena sudah tidak ada lagi yang membantunya lagi.

Tidak sedikit kendala yang membuatnya harus berani menempuh perjalanan hidupnya untuk merantau ke Jakarta. Sebelum berangkat ia sempat berselisih paham dengan ayahnya yang tidak mau ia pergi meninggalkan keluarganya. Tapi lain halnya dengan ibunya yang merestui kepergian dirinya ke Jakarta. Mungkin karena ayahnya terlalu khawatir dengan anak perempuannya yang akan sendiri di tempat perantauan nanti. Ayahnya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, memang ayahnya terlalu ketat dalam menjaga kesehariannya. Pernah hanya berteman dengan teman laki-laki sebayanya pun kadang dilarang. Akhirnya dengan menyampaikan argumen dan penjelasan kepada ayahnya, sedikit ia mau melepas kepergian anaknya untuk merantau.

bersambung………………………………………………

Gambar : Canon PowerShot A3200IS

Lokasi : Desa Kedung Menjangan, Purbalingga, Jateng

Iklan
Tinggalkan komentar

1 Komentar

  1. inyong terharu tapi sayange urung bisa diwaca kabeh

    Balas

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: