Sakit itu membuatnya tersenyum

Ternyata tidak sedikit orang-orang yang baik di depannya tapi ternyata punya niat jahat di belakang. Hari ini mereka bisa bilang A ke dia, tapi di hari lain mereka bilang B ke orang lain. Sedih rasanya jika harus menjadi pangkal dari sebuah kesalahan. Tidakkah mereka melihat apa yang  ia lakukan saat ini? Ia sudah membantu mereka semampu dirinya. Mengusahakan supaya jangan sampai terlambat ditangani. Tapi apa balasan mereka kepadanya, seolah-olah ia yang menjadi masalah. Ia pun hanya bisa tersenyum dan tertawa dengan apa yang diterima hari itu. Kalau sakit hati memang sering, tidak mau ia ambil pusing dan cepat melupakannya. Cukup tahu saja sikap dan sifat mereka, padahal ia pun sudah tahu sebelumnya. Semua sama saja.

Tidak mudah ia menjadi satu orang menangani berbagai macam pekerjaan yang tidak biasanya. Sebagai contoh di satu sisi ia bertindak sebagai supplier yang menekan customer, di sisi kedua ia harus bertindak sebagai customer yang kadang harus mengelak dari supplier. Dan di sisi yang lain, ia harus bertindak sebagai tax officer. Sepintas orang melihatnya sebagai pekerjaan yang mudah. Yang dilakukannya tidak semudah yang mereka lihat dan bayangkan. Tidakkah mereka berpikir bahwa otak manusia itu hanya satu. Banyak hal yang harus ia pikirkan selain pekerjaannya. Bahkan ia sampai lupa waktu. Lupa ketika ia harus menelepon atau kirim sms kepada kekasihnya, menanyakan kabarnya, menanyakan keadaannya. Hal itu pun tidak sempat ia lakukan. Sampai-sampai bertengkar dengan kekasihnya karena jarang sekali memberi kabar.

Malam sudah mulai larut, matanya masih tertuju pada layar komputer di kantornya. Sesekali ia mengalihkan perhatian ke media sosial tempat ia bisa melepas kepenatan dan stressnya di kantor. Sambil tersenyum dan tertawa membaca komentar dan postingan dari teman-temannya di dunia maya. Entah tiba-tiba ia terhenti ketika melihat salah satu profil seseorang. Ia amati dan memandanginya dengan penuh keheranan. “Is it true?”, katanya dalam hati. Ia tak habis pikir bisa mengenalnya sampai sejauh ini. Tapi sudahlah, tidak perlu dibahas terlalu panjang. Itu hanya akan membuatnya semakin kacau.

Beberapa saat kemudian ia matikan komputernya dan bergegas untuk pulang, meskipun masih banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan. Baru pekerjaan yang penting-penting saja yang harus ia kirim segera ke rekannya yang berada di tempat lain. Seperti biasa ia kebagian tugas untuk mematikan AC, lampu, dan mengunci pintu ruangan dan lobi. Karena hanya ia satu-satunya orang terakhir yang keluar dari area kantor. Bapak-bapak security sampai kagum dan kasihan dengannya. Tapi apa mau dikata, mereka hanya bisa mendoakan untuk karir dan hidupnya yang lebih baik.

Menyusuri malam gelap dengan kecepatan yang lumayan tinggi, ia agak takut berkendara malam hari karena ia sering mendengar cerita yang menakutkan. Sepanjang jalan ia terus berdoa semoga selamat sampai di rumah untuk segera beristirahat dan melanjutkan pekerjaannya kembali esok hari.

“Life is simple, as simple as you love him.”

Mekarmukti, 06 Agustus 2012

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: