Lo kangen gue?

“Kapan terakhir lo kerja di sini?”, ucap perempuan muda itu kepada teman lelaki kantornya melalui telepon.

“Kenapa? Masih kangen lo ama gue?”, balas si lelaki itu.

Deg…, seketika itu jantungnya serasa mau copot. Ucapan itu persis dengan yang ia dengar ketika menelepon seseorang yang selama ini ia kenal, tapi berbeda bahasanya. Serasa ia mendengar seseorang yang sudah lama sekali tak pernah mendengar suaranya. Banyak hal yang membuatnya agak kacau belakangan ini. Termasuk selalu memikirkan temannya yang jauh berada di luar negeri sana. Sudah lama ia jarang berkomunikasi melalui telepon, mungkin ada 3 bulan lebih. Hanya kirim kabar melalui email kantornya saja. Itu pun jarang sekali temannya membalas. Mungkin karena kesibukan yang membuatnya tidak sempat untuk membalas emailnya.

Ia memulai perkenalan dengan temannya di internet beberapa tahun silam ketika ramai-ramainya orang senang nge-blog. Waktu itu ia sekadar iseng mengomentari sebuah artikel dalam blog milik temannya. Karena terlalu seringnya berinteraksi membahas artikel dalam blognya. Akhirnya mereka pun berkenalan, saling mengirim kabar melalui surat elektronik. Dan lama kelamaan saling bertukar nomor telepon. Sering sekali mereka berbicara melalui telepon, meskipun jarak yang sangat jauh tidak menghalangi mereka untuk saling ngobrol. Apalagi kalau untuk ukuran tarif telepon luar negeri ke domestik, tarifnya mahal.

Entah kenapa akhir-akhir ini mereka sudah jarang berkomunikasi melalui telepon. Ia selalu mengirim surat elektronik ke temannya, mungkin hampir setiap hari, tapi hanya beberapa saja yang dibalas, itu pun kalau temannya itu mau membalasnya. Jika tidak dibalas ia pun mengerti, mungkin karena temannya terlalu sibuk dan tidak mau diganggu.

Mereka belum pernah bertemu sama sekali. Ia ingin sekali bertemu dengan temannya secara langsung. Jarak yang jauh menjadi kendala untuk mempertemukan keduanya. Ada hal lain yang membuatnya selalu merindukannya setiap saat, setiap hari, ia rindu dengan kehangatan dan kelembutan temannya ketika berbicara dengannya. Pernah karena saking rindunya ia kepada temannya sampai salah mengirim isi surat elektronik. Isinya kacau balau, tidak nyambung dengan yang ada di pikirannya. Itu baru ketahuan ketika ia membuka kembali surat yang sudah dikirimnya.

Pernah suatu ketika temannya mengajaknya untuk bertemu di luar negeri sana. Tapi ia tidak bisa melakukannya karena sesuatu hal. Selain ongkos yang terlalu mahal untuk perjalanan ke sana, juga waktu yang tidak memungkinkan ia meninggalkan pekerjaannya di kantor. Ia hanya bisa berharap suatu saat bisa bertemu dengan temannya itu entah kapan dan di mana. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

fiksi

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: