Kepedulian dari teman

Hari ini ada acara buka bersama teman-teman staff kantor dan pabrik di restoran yang lokasinya tidak jauh dari tempat kerjaku. Aku sengaja datang agak terlambat ke acara itu. Lima belas menit menjelang berbuka puasa, aku baru sampai di lokasi dengan mengendarai sepeda motor kalajengking merah. Sesampainya di sana teman-teman perempuan memanggil dan mengajakku bergabung ke meja mereka. Aku senang karena teman-temanku dari divisi lain masih begitu perhatian denganku. “Harus dong, kalau nggak nanti expense-nya nggak gue bayarin”. (no, i’m just kidding) πŸ˜€

Menjelang berbuka puasa beberapa teman berfoto-foto ria. Ada yang dengan gaya imut, narsis, dan macam-macam. Akhirnya waktu berbuka tiba, tapi aku masih santai. Maklum, hari ini dapat bonus nggak puasa alias sedang libur. Kami mulai makan dengan lahap, abisnya laper sih. Lumayan lah menu-nya bikin aku kenyang.. Alhamdulillah.

Setelah semua selesai makan, kami bersiap-siap pulang. Salah satu temanku aku ajak pulang bareng sekalian aku antar ke kos-kosannya dan aku sendiri berniat untuk kembali lagi ke tempat kerja. Aku memang belum mematikan komputer, hanya aku locked saja.

Aku antar temanku ke kos-kosannya yang letaknya juga tak jauh dari tempat kerja kami. Dia biasa menempuhnya dengan jalan kaki. Tidak sampai sepuluh menit juga sampai. Sesampainya di sana kami ngobrol tentang pekerjaan. Temanku bilang bulan September nanti ia akan dikirim ke New Zealand. Di sana memang ada perusahaan yang sama hanya beda speciality, dia sebagai GMT (Graduate Management Trainee) harus selalu siap berpindah-pindah tugas. Ia juga bilang kalau akhir-akhir ini ia merasa dimanfaatkan oleh atasannya dengan diberi banyak pekerjaan sebelum ia berangkat ke sana. Beberapa saat kemudian datanglah dua teman perempuan kami yang lain. Salah satunya memang mengantar temannya itu ke tempat kos yang sama.

Kami ngobrol macam-macam, dari mulai tentang pekerjaan, media sosial, telepon, dan motor. Berbicara tentang motor temanku ingin membonceng motorku, penasaran katanya. Lalu aku ajak dia muter-muter keliling komplek kos-kosan. Merasa senang, akhirnya dia mencoba mengendarai motor itu sendiri. Kalau untuk ukuran kami perempuan, motor itu memang sangat berat. Aku saja masih keteteran kalau disuruh mengangkat motor itu. Ampun deh itu motor, sampai lantai keramik di rumah banyak yang retak karena beban berat motor itu.

Dalam obrolan aku menyelak untuk pamitan karena aku harus kembali ke kantor. Alasanku komputer belum aku matikan. Dan ada pekerjaan lain yang harus aku kerjakan. Salah satu temanku ngomel padaku, dia bilang begini,
“Eh, lo beneran mau balik lagi ke kantor? Gila lo ye.. jam segini mau balik lagi ke kantor mau ngapain?

“Gue mau matiin komputer dulu”, alasanku.

“Nggak usah dimatiin juga nggak apa-apa kali, sekarang waktunya istirahat, pulang sono gih. Emang kalau lo nanti sakit kantor mau bayarin?”, ucapnya.

“Ya iya dong, udah nggak apa-apa, cuma bentar kok”, balasku.

“Iya, sekarang kantor mau bayarin, tapi kalau sakit pas lo tua gimana? Siapa yang mau bayarin coba? Emang nggak ada hari esok apa? Lo tuh jadi orang jangan kerajinan, ngapain coba. Sekarang mending lo pulang aja, awas kalau lo balik lagi ke kantor, kualat loh”, bentak dia.

“Waduh, napa lo malah doain yang nggak-nggak?”, ucapku dengan memelas.

“Abisnya lo susah dibilangin sih, lagian kan bos lo juga udah pulang, lo juga ikutan pulang dong”, tambahnya.

Teman-teman yang lain juga ikut-ikutan menyuruhku pulang. Banyak yang mereka ucapkan, tapi aku sudah lupa apa yang mereka bilang tadi. πŸ˜€

Yah, begitulah salah satu kepedulian dari teman-temanku. Usia mereka hanya selisih setahun lebih muda dariku. Tapi kadang cara berpikir mereka sudah jauh lebih di atasku jika aku berada di lingkungan kerja ini. Mereka memandangku bukan sebagai emak rumah tangga, tapi sebagai teman yang sebayanya. Mungkin karena usia kita yang tidak terpaut jauh. Dan justru kebalikan lagi dengan temanku yang jauh lebih tua di atasku. Aku merasa cara berpikir mereka kadang-kadang belum menunjukkan kedewasaan mereka.

“Setiap orang pasti akan bertambah usianya, tapi tidak semua orang bertambah dewasa pikirannya.”

mengutip kalimat dari blog Jarar Siahaan.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: