Susahnya mencari orang jujur

Mbak, pendukung Jokowi ya? Tumben hari ini pakai baju kotak-kotak”, kata teman saya.

Saya jawab, “ho, iya dong.. saya itu Jokowi lovers.. hahaha..”  (hanya guyon)

Berawal dari saya menggunakan baju kotak-kotak hari ini, teman saya langsung ngobrolin tentang kandidat gubernur Jakarta, pak Jokowi. Sambil menghitung uang, saya mendengar mereka ngobrol. Banyak beredar isu yang mengatakan bahwa pasangan ini tidak cocok untuk menjadi gubernur karena ada salah satu calon wakil gubernurnya berasal dari keturunan Tionghoa. Yang katanya inilah, itulah, macam-macam isunya.

Hanya orang-orang bodoh saja yang membuat isu dan menanggapi isu itu dengan serius. Jelas sekali itu unsur SARA-nya kuat banget. Secara logika memang ada apa sih dengan kandidat keturunan Tionghoa. Adakah yang salah? Saya rasa tidak. Menurut saya itu hanya akal-akalan orang yang sentimen dengan pak Jokowi dan pak Ahok. (eh kenapa saya yang sewot) 😀

Dari cerita tentang pak Jokowi, akhirnya merembet ke permasalahan lain mengenai Pilkada di tempat kami tinggal yaitu di Cikarang. Beberapa hari lagi di Cikarang akan ada Pemilihan Lurah. Bakal calon Lurah yang akan dipilih dilambangkan dengan simbol buah-buahan seperti Nanas, Apel, dan Durian.

Salah satu teman saya mengatakan bahwa dia menerima sms dari orang yang tidak dikenal yang isinya mengancam dia untuk memilih bakal calon Lurah dari beberapa kandidat. Sms itu ditujukan kepada dia dan juga tetangganya, isinya pun sama, dengan nada mengancam dan harus memilih yang disebutkan pada sms itu. Teman saya pun membalas sms yang diterimanya itu, kalau tidak salah bunyinya seperti ini, “Maksud lu apa, suka-suka saya mau milih siapa, lagian kalau dia kepilih emang ada imbasnya ke kita, nggak kan?” Padahal dia juga tidak akan memilih bakal calon Lurah itu.

Tidak dipungkiri, semua kandidat Lurah di tempat saya memang menggunakan “Money Politic”. Dan semuanya memberikan uang kepada warga untuk bisa memilih calon Lurah yang memberinya uang itu. Bahkan di tempat saya tinggal tertulis spanduk besar bertuliskan bakal calon Lurah yang sudah mewakafkan tanahnya untuk pemakaman umum. Menurut saya itu terlalu berlebihan, tapi kalau buat mereka tidak kali ya. Namanya juga kampanye, apa pun dilakukan supaya terpilih nantinya.

Setiap hari saya melewati jalan yang banyak dipasang wajah bakal calon Lurah di Cikarang. Tapi hampir semuanya tidak ada yang cocok menurut saya, dan hampir semuanya mempunyai misi terselubung ketika sudah menjadi Lurah nanti. Sekilas saya bisa melihat mana wajah yang jujur dan mana wajah yang tidak jujur. Dan hampir semuanya tidak ada yang jujur. Tapi memang begitu sih, kelihatan kok. Buktinya, dalam kampanye saja sudah banyak bagi-bagi uang. Pasti nanti kalau sudah kepilih mau minta ganti uang yang dikasih itu kan?. Saya tidak berprasangka buruk. Seperti kita tahu, jangankan untuk calon Lurah, untuk dana pengadaan Al Quran yang sepatutnya adalah untuk kitab suci agama Islam pun dikorupsi. Secara logika, apakah itu dibenarkan? Berpulang ke pribadi, hati nurani masing-masing orang.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, “Dosa itu ibarat makan rujak. Jika berhenti sesaat, rasanya tidak akan nikmat, nikmati sampai benar-benar puas.”

Iklan
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: