Menentukan sebuah pilihan

Seringkali ada saja pekerjaan atau sesuatu yang tidak terduga yang datang tiba-tiba. Entah itu yang bikin syok, bikin senang, bikin terganggu. Macam-macam yang saya alami setiap harinya. Seperti biasa saya harus melakukan interaksi dengan pihak pembeli atau pun pihak penjual. Ketika sedang bertelepon dengan pihak pembeli, rekan saya datang menghampiri saya, seperti ada hal yang penting yang ingin dibicarakan. Saya tidak memedulikannya, karena memang saya sedang sibuk berbicara dengan orang yang saya telepon. Akhirnya rekan saya beranjak pergi, mungkin karena tak mau menunggu terlalu lama.

Beberapa saat kemudian, rekan saya itu menelepon saya, ada hal penting yang ingin dia bicarakan kepada saya. Dia memberi kabar baik tentang riwayat pekerjaan saya dulu sebelum berganti ke perusahaan baru. Saya memang sempat mengalami bekerja dengan perusahaan lama sebelum akhirnya perusahaan ini dibeli oleh perusahaan asing. Rekan saya mengatakan kalau saya ikut mendapat hasil emm.. katakanlah bagian dari penjualan salah satu aset perusahaan di mana tempat saya dan rekan saya bekerja. Dia akan mengirimkan formulir persetujuan untuk menandatangani kesepakatan itu untuk saya. Saya bilang kepadanya supaya dinaikkan saja formulir itu ke meja saya. Sebenarnya dalam hati saya sudah punya pikiran yang agak aneh saja. Saya merasakan pasti ada sesuatu dibalik ini keterlibatan saya untuk menerima bagian ini.

Dan benar ketika rekan saya mengantarkan formulir itu pada saya, saya membaca sekilas tentang formulir itu. Intinya saya suruh menandatangani formulir itu. Tapi saya bilang kepadanya kalau nanti akan saya turunkan kembali setelah saya isi dan ditandatangani. Formulir yang saya sempat pikirkan sebelum rekan saya mengantarnya memang benar tentang formulir pendaftaran untuk keikutsertaan saya dalam Serikat Pekerja di perusahaan tempat saya bekerja. Sejak tahun lalu memang saya menolak untuk ikut serta dalam Serikat Pekerja ini. Saya tidak ada niat untuk ikut serta, meskipun sudah seringkali saya dibujuk, dirayu untuk ikut oleh pengurus Serikat Pekerja. Saya memang bukan tipe orang yang suka terlibat dalam berorganisasi. Saya tidak ingin terikat dengan sesuatu yang membuat saya tidak nyaman dalam melakukan pekerjaan. Seburuk dan sepahit apapun resiko yang akan terjadi nanti, akan saya terima, karena itu konsekuensi saya, pilihan yang saya pilih.

Kembali ke formulir itu tadi. Kalau dipikir-pikir memang bagian yang saya terima dari penjualan aset itu lumayan banyak, dengan catatan saya ikut serta dan menandatangani formulir Serikat Pekerja itu. Tapi jika saya harus melakukannya, itu sama saja saya tidak komitmen dengan keputusan saya yang dulu. Biarkanlah saya itu dikatakan sombong atau bego karena tidak mau menerima rejeki. Saya menjalani pekerjaan saya ini tidak ingin ada sesuatu yang membuat saya kurang nyaman, meskipun resikonya saya mungkin akan dianggap tidak loyalitas atau bagaimana oleh rekan-rekan saya. Lagipula hal itu tidak diwajibkan, jadi untuk apa pula saya terlalu berambisi untuk mengikutinya. Toh saya masih bisa menerima gaji setiap bulannya, dan masih beruntung saya bisa bekerja di perusahaan ini sampai sekarang. Saya tidak membangga-banggakan perusahaan tempat saya bekerja. Saya sangat bersyukur karena di tempat mana pun saya bekerja, yang paling penting adalah bagaimana saya bisa belajar dan mendapatkan ilmu gratis, tanpa harus melanjutkan kuliah lagi. Itu sudah menjadi sangat cukup bagi saya.

“Setiap orang berhak menentukan pilihan dalam hidupnya, pilihan yang bisa memberikan kenyamanan dalam menjalani sebuah proses kehidupan tanpa harus merugikan diri sendiri atau pun orang lain.”

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: