Teman dan teman

Hampir setiap hari kerja aku selalu menelepon teman kerjaku yang berada di negeri seberang sana. Kami sering menelepon menanyakan tentang pekerjaan. Selain pekerjaan kami juga sering ngobrol hal yang lain. Maklum, kalau perempuan memang banyak ngobrol. Terkecuali kalau ngobrol dengan pak Boss, bawaanya deg-degan plus takut, padahal menurutku pak Boss yang di negeri seberang sana baik.

Aku sering tersenyum bahkan sampai ngakak kalau harus ngobrol dengan mereka. Temanku senang, katanya kalau aku itu orangnya lucu dan suka berkelakar. Kami ngobrol pakai bahasa campuran, kadang bahasa Inggris tapi seringnya pakai bahasa Melayu, mereka cakap dalam bahasa Melayu (Malaysia) dan aku bicara dalam bahasa Indonesia. Mereka paham yang aku ucapkan, tapi kalau aku bandingkan dengan temanku yang lain yang berbicara pada mereka dengan bahasa Indonesia, kadang malah mereka tidak paham. Ujung-ujungnya mereka bertanya kepadaku juga. Kalau kami ngobrol, tidak cukup waktu hanya beberapa menit saja, tapi bisa sampai setengah bahkan satu jam. Apalagi kalau harus teleconfrence meeting dengan mereka dan Boss bisa sampai satu jam lebih. Aku pernah mendapat telepon balasan, kukira dari mana, eh ternyata dari pihak Telkom yang mengatakan bahwa saya telah menghubungi nomor sekian sekian (internasional)  selama 3 menit dengan tarif Rp 16ribu. Agak kaget juga ketika mendengarnya. Ah, tapi itu semua tidak ada apa-apanya, saya juga tahu tagihannya setiap bulan. hehe..

Aku memang hobi menelepon, menelepon customer maksudnya, maklum harus menagih hutang customer yang sudah jatuh tempo. Itu pun kalau suasana hatiku sedang baik, kalau sedang malas malah sama sekali tidak menelepon customer, masa tiap hari mau menelepon customer terus. Yang ada mereka pasti bosan kan ditelepon.

Kembali ke obrolan temanku yang ada di negeri seberang sana. Mereka sering menanyakan kepadaku kapan akan datang ke sana lagi. Temanku juga menyuruhku untuk ambil cuti dan liburan di sana. Sebenarnya kuingin ke sana. Tapi, ya itu banyak pertimbangan. Situasi dan kondisi kadang belum memungkinkan untuk pergi ke sana.

Aku sekarang memang memilih teman dalam berteman. Aku tahu mana teman yang bisa diajak untuk berteman, berbagi cerita, berbagi keluh kesah. Memilih teman itu tidak bisa dilihat dari penampilan saja. Aku punya teman dengan penampilannya yang kadang menjadi bahan pembicaraan orang karena pakaiannya yang terlalu seksi dan mencolok. Tapi dibalik itu semua dia adalah teman yang benar-benar baik. Aku salut dengan orang seperti itu, menurutku dia lebih baik dari seorang teman yang berpenampilan sopan dan tertutup. Kemarin aku sempat ngobrol dengan temanku membicarakan temanku itu. Dia juga berkata sama dengan yang aku ucapkan, penampilan seseorang tidak mencerminkan hati orang itu. Temanku sangat professional dalam bekerja, ia tidak peduli dengan ucapan orang lain mengenai penampilannya. Dan satu hal yang membuat aku dan temanku tambah salut, yaitu sifat keibuannya. Memang usianya selisih 5 tahun lebih tua dariku. Tapi aku salut dengan bagaimana ia memberikan bantuan dan solusi untuk masalah pekerjaan yang ada hubungannya dengannya, atau bahkan membantu teman untuk hal-hal lain yang sekiranya bisa ia bantu.

Seorang teman yang baik adalah bagaimana ia bisa membuat temannya itu nyaman dalam berteman. Merasa kangen ketika lama tidak berjumpa, dan merasa kehilangan ketika dia tidak ada.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: