Musibah

Bagian I

Baru saja saya pulang menjenguk teman kerja yang berada di rumah sakit. Kebetulan lokasi rumah sakitnya berada dekat dengan tempat kerja saya, kurang lebih 100 meter jaraknya. Teman kerja saya mengalami kecelakaan ketika pulang dari tempat kerja sekitar pukul 16.00 tadi. Tapi saya malah baru tahu beritanya sekitar pukul 19.45 dari teman yang mendatangi saya dan mengabarkan teman kami sedang koma di rumah sakit.

Tanpa menunggu lama, saya mengajak teman saya untuk menemani ke rumah sakit. Menurut cerita dari teman-teman, teman saya itu bertabrakan dengan pengendara motor lain ketika sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Nah, tidak biasanya beliau ini tidak memakai helm. Dari arah berlawanan terjadi tabrakan antara kedua motor ini. Teman saya langsung terpental seketika itu juga dan kepalanya membentur jalan aspal. Membayangkan saja rasanya bagaimana kepala kalau terbentur jalan aspal, jangankan untuk jalan aspal, kejedot dinding saja bikin kepala pusing. Terjadi pendarahan di kepala beliau, sampai wajahnya lebam biru. Dan menurut keterangan teman-teman, posisi untuk bertahan hidup 30-40%. Karena sampai saat saya pulang beliau masih dalam keadaan koma.

Saya merinding mendengarkan cerita teman-teman, saya pun tak berani masuk untuk melihat keadaan beliau di ruang UGD. Hanya menunggu diluar ruangan bersama teman-teman yang lain sambil duduk menemani istri beliau yang sedari tadi sedih dan menangis. Kasihan melihatnya, saya tak bisa berbuat apa-apa terkecuali hanya berdoa untuk kesembuhan beliau.

Beberapa saat kemudian saya pamit kepada ibu-ibu yang ada di ruang tunggu untuk kembali ke tempat kerja karena sudah malam. Saya pulang ditemani oleh teman saya sambil memberi nasihat kepada saya supaya jangan ngebut ketika mengendarai motor.

Namanya musibah kita tak akan pernah tahu datangnya kapan. Hari ini kita bisa tertawa, mungkin esok kita akan menangis. Jika teman-teman mengendarai motor, gunakan helm standar SNI, helm dipakai di kepala, bukan ditaruh di jok motor. Setidaknya kalau memakai helm lebih melindungi kepala. Yang paling penting adalah selalu banyak berdoa dan hati-hati ketika sedang mengendarai kendaraan.

 

Bagian II

 

Masih melanjutkan postingan saya beberapa waktu lalu tentang “Helm itu penting”, hari ini pukul 13.45 WIB tadi, saya dan teman saya mengunjungi rumah sakit tempat dimana teman saya masih dirawat. Mendengar kabar dari teman-teman, katanya harapan hidup untuk teman saya sudah tidak ada lagi sejak kemarin. Dan mungkin untuk kali ini saya bisa mengunjungi beliau lagi. Saya kuatkan melihat beliau untuk terakhir kalinya. Memasuki ruangan ICU, ada rasa gemetar dan lemas ketika memandang teman saya yang terbaring. Saya melihat dadanya kembang kempis seperti orang bernapas, tapi napas beliau dibantu dengan alat. Apa yang saya rasakan? Saya tidak bisa berkata apa-apa, saya ingin menangis tapi tak bisa menangis sambil melihat jemari tangannya yang sudah pucat.

Sebentar saja saya menengok beliau, kemudian saya dan teman saya keluar ruangan. Saya mendekati ibunya (istri beliau), ibu itu tadinya mau makan, tapi tidak jadi karena beliau masih sedih dan menangis. Saya sampai bingung mau berkata apa ke beliau. Saya coba bujuk ibunya supaya makan, kasihan melihatnya. Akhirnya sedikit beliau terbujuk untuk minum seteguk air putih melalui sedotan. Raut wajah sedih dan seringnya menangis membuat saya tak tega, saya hanya bilang,

“Bu, yang sabar bu, banyak-banyak berdoa, Istighfar bu..Istighfar..”

Sang Ibu hanya mengangguk sambil memandang ke depan dengan tatapan penuh kesedihan.

Tiba-tiba ibu bercerita tentang peristiwa seminggu yang lalu pada waktu hari libur. Beliau, suami, dan anaknya bercanda, kalau tidak salah ibunya bilang seperti ini ke anaknya,

“Tuh, kalau ada bapaknya aja kolokan (manja), tapi giliran bapak kerja nggak rewel, nurut sama ibunya”.

“Ya udah, kalau begitu saya tak pergi saja”, balas bapaknya.

“Mau pergi ke mana memangnya?”, ucap ibunya.

“Ya, pergi aja”, jawab si bapak.

Ternyata ibunya sudah ada firasat seperti itu. Saya menjadi terhenyuh mendengarnya.Ibu itu menangis lagi. Saya coba menghibur beliau. Kerabat dan saudara di sampingnya juga ikut menghibur beliau supaya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Hanya 20 menit menemani beliau, kemudian saya pamit untuk kembali ke tempat kerja.

Dalam perjalanan pulang ke tempat kerja, menurut keterangan dari teman saya sebenarnya Bapak itu sudah tidak ada sejak kemarin kata dokter-dokter yang menangani beliau, apa yang akan dilakukan nanti tidak membawa perubahan karena organ di bagian kepalanya sudah tidak berfungsi lagi. Saya hanya bisa berduka cita dan berdoa semoga amal dan ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT (Innalillahi wa inna ilaihi raji’un).

Sampai saat saya menulis ini saya masih merasa gemetar dan terbayang-bayang beliau yang terbaring di kamar ICU. Beberapa teman mengingatkan saya untuk selalu berhati-hati dalam mengendarai motor, jangan ngebut, sampai ada yang menasihati saya dengan nada menggertak. Tapi, sudah pelan pun masih ada kendalanya, itulah kenapa harus banyak-banyak berdoa dan berhati-hati di jalan.

 

 

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: