Inilah teman baik saya

Hampir semua postingan saya pasti ada kaitannya dengan teman. Teman, sahabat, kerabat, keluarga adalah orang yang mempunyai hubungan dengan saya. Di mana pun berada, di dunia nyata, di dunia maya, di udara (telepon) pasti pernah mengenal orang lain yang akhirnya menjalin pertemanan, persahabatan, bahkan sampai jadi jodohnya. Seberapa banyak saya menjalin hubungan dengan orang lain? Saya tidak bisa menghitungnya. Entah berapa banyak orang yang saya kenal, yang sebatas berbicara melalui telepon, sebatas mengucapkan “hai”, menanyakan tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan pekerjaan, dan sebagainya.

Orang lain yang sudah mengenal saya, banyak yang bilang kalau saya itu termasuk orang yang lugu. Selalu saja mengucapkan “iya..iya… dan iya”. Saya memang bukan tipe orang yang bisa langsung marah ke orang lain. Hanya bisa memendam perasaan kesal dalam hati. Kalau kata orang Jawa bilang, “Nrimo ing pandum“, menerima dengan ikhlas. Tapi, sebenarnya memang tidak bagus juga untuk saya kalau terlalu banyak menerima dan menerima. Sakit hati? Saya pernah merasakan sakit hati, sampai saya menangis pun orang yang membuat saya sakit hati tidak merasakan sakit hati saya. Saya hanya bisa menyadari dan menghibur diri, mungkin ada yang salah dengan diri saya.

Dalam beberapa bulan ini, saya merasa banyak kehilangan teman, baik teman di dunia nyata maupun di dunia maya. Teman-teman saya di tempat kerja satu per satu meninggalkan saya. Kalau ada yang bertanya, “Emang ngaruh gitu buat kamu?”. Pasti saya jawab, “Sangat berpengaruh”. Apalagi dengan keadaan saya sekarang ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dulu ketika masih ramai teman-teman berkumpul, ada kenangan tersendiri. Bisa bercanda, bisa berbagi makanan, bisa nggosipin orang atau artis. Sekarang sudah tidak ada lagi. Yang pasti saya merasa sedih, kalau harus mengingat kenangan itu. Tapi, sudahlah, semua memang ada waktunya.

Sama halnya seperti saya menemukan teman yang ada di dunia maya, hanya sebentar saja saya bisa mengenalnya. Saya paham dan sangat mengerti apa yang menjadi alasannya. Karena semua hal tidak bisa disamakan dengan teman yang ada di dunia nyata. Teman di dunia nyata sudah tahu siapa saya, dan apa status saya. Tidak menjadi masalah jika harus berteman dengan siapa pun. Mereka juga tahu apa yang saya lakukan, karena sesuai dengan batas kewajaran. Kadang teman-teman berbagi curahan hatinya tentang apa yang dialami. Sampai masalah pribadi yang pelik pun saya dengarkan, saya merenungi ceritanya. Saya pun hanya bisa memberi semangat dan mendoakan yang terbaik untuk teman saya. Karena saya hanya bisa membantu apa yang saya mampu saja tanpa harus mencampuri urusan orang lain. Saya paling tidak suka untuk mengorek-orek pribadi orang lain, kalau sudah tahu dan ditanya oleh orang lain, saya hanya bilang, “Oh, iya, cukup tau saja.”

Dua minggu yang lalu, satu lagi teman baik saya berpamitan dengan saya. Saya tidak banyak bicara dengannya, karena saya bingung apa yang harus saya katakan. Sudah banyak rasa sedih yang saya alami ketika harus berpisah dengan teman baik. Sampai satu hal yang membuat saya merasa sangat dihargai adalah ketika saya sedang duduk sembari mengetik, ia berdiri di samping saya dan berbicara kepada orang lain sambil menepuk pundak saya,

“Inilah teman baik saya”, ucapnya.

Saya hanya tersenyum dan mengucap, “Terima kasih”.

Sungguh tak menyangka ia akan berbicara seperti itu, padahal kami jarang sekali bertemu, jarang sekali ngobrol, karena ia memang jarang ke tempat kerja dan lebih banyak di luar.

Saat ini saya memang lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja. Jadi teman yang saya temui ya hanya di tempat kerja ini. Teman lain selain diluar teman kerja, saya belum bisa bertemu. Beberapa minggu ke depan mungkin saya akan mengalami hal serupa. Akan ada teman baik lagi yang pergi meninggalkan tempat kerja ini.

Itulah kenapa, sejak kepergian teman-teman dulu saya tak mau terlalu akrab lagi dengan mereka. Mendekati waktu perpisahan saya lebih memilih sikap acuh. Alasannya, ketika saya merasa nyaman dalam berteman, tidak bisa bertahan lama, karena pasti ujung-ujungnya perpisahan yang ada. Dan rasanya menyesakkan, mau menangis tapi tertahan. Semoga teman saya yang membaca tulisan ini mengerti dan paham dengan apa yang saya ucapkan. Saya berteman dengan orang lain tidak melihat statusnya apa dan dari mana. Saya berteman karena saya membutuhkan teman. Yang pasti dalam batas-batas kewajaran. Mereka baik, saya akan lebih baik lagi.

Terima kasih sudah menjadi teman saya, saya tidak bisa membalas kebaikan teman-teman. Yang saya bisa hanya mendoakan teman-teman semoga lebih baik dan lebih sukses. Maafkan saya 🙂

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: