Menikmati pekerjaan

Ketika semua orang bertanya kepadaku mengenai pekerjaanku, aku tak bisa menjawabnya. Dan aku malah balik bertanya ke mereka, “Menurutmu apa yang dilihat dari yang kulakukan selama ini?”. Mereka pun bisa menilai dan melihat apa yang aku lakukan. Bahkan ada salah seorang temanku berkata, “Kamu itu seperti robot.” Lantas aku jawab, “Iya, benar.. kalau disuruh apa-apa pasti nurut ya?” Aku tahu apa yang akan mereka katakan, tapi aku hanya bisa diam dan menerima apa adanya. Ya inilah aku orang yang selalu menerima apa pun itu, menurut saja apa yang diperintahkan. Tapi, meskipun begitu tetap saja kadang ada yang salah.

Tiada hari tanpa ada hal yang membicarakanku, apa saja. Dari mulai yang kelihatannya jidatnya sudah keriput, ada yang bilang makin kelihatan muda, dan sebagainya. Buatku itu semua tidak berpengaruh. Apa yang mereka katakan karena berdasarkan pada perubahan yang mereka lihat pada diriku. 

Aku tidak munafik, aku memang merasakan hal yang sangat menguras pikiranku. Mulai dari pekerjaan sampai urusan rumah tangga. Kalau mungkin di kepalaku ini terlihat kapasitas memorinya, mungkin sudah di atas batas normal alias kelebihan beban. Hasilnya memang kadang aku merasa sakit kepala, migrain, lupa, dan seperti orang linglung. Mengeluh? Pasti mengeluh, tapi hanya sebentar tidak berlarut-larut karena itu tidak akan menyelesaikan masalah dan pekerjaan. Pernah membicarakan ini dengan atasan? Jujur aku tak berani, aku takut, aku tahu karakter orang itu bagaimana dan siapa. Kadang kalau lagi baik, orangnya baik. Tapi, kalau lagi bad mood.. jangan ditanya deh. Biarlah semua ini berjalan apa adanya. Hanya bisa berdoa saja.

Seperti halnya hari ini, banyak hal di tempat kerja yang membuatku ingin sekali marah, ingin sekali lempar dokumen ke wajah orang. Tapi, tidak aku lakukan. Aku hanya menahan amarah dalam hati, diam, dan bersabar sambil menarik napas panjang dan Istighfar. Cuma itu yang bisa aku lakukan. Aku tak bisa seperti orang-orang yang langsung marah. Namanya bekerja dengan orang lain memang kadang bikin kesal. Bisa dilihat mana orang yang egois dengan urusannya sendiri tanpa memerdulikan rekan kerjanya. Yang akhirnya kita sendiri yang kelabakan ditanya orang-orang. Ada lagi tipe orang yang selalu mengejar-ngejar pekerjaan kita, sedangkan dia sendiri belum memberikan yang dikerjakan untuk kita. Sampai kita bingung apa yang mesti kita lakukan. Selain itu ada juga yang menggampangkan pekerjaan yang aku kerjakan, seolah-olah itu sangat mudah, padahal kenyataanya belum tentu. Dan orang itu tidak tahu detil apa yang aku kerjakan. Aku hanya bisa tersenyum saja. Kadang aku juga berpikir, sampai detik ini aku merasa nyaman bila bekerja dengan orang-orang dari negeri seberang, hanya berhubungan melalui email, melalui telepon saja sudah merasa seperti bertemu setiap hari. Meskipun banyak rekan-rekanku yang bilang orangnya seperti inilah..itulah… Aku rasa tergantung masing-masing orangnya. Jangan karena terdoktrin sesuatu, malah berubah menjadi sesuatu yang tidak disenangi. 

Yah, begitulah dalam lingkungan kerja, bekerja dengan orang lain. Aku hanya bisa menikmati pekerjaanku, apa pun itu hasilnya nanti. Karena pekerjaanku adalah sawah ladangku. Kalau aku tak mengelola dengan baik, hasilnya juga tidak akan baik. Dan kalau aku bisa mengelola dengan baik dan benar, mungkin hasilnya akan lebih baik.

 Curahan hati yang sedikit aku tuliskan dalam coretan ala kadarnya ini.

 

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: