Sepatu Futsal

Beberapa Jumat lalu sepatu futsalku rusak. Nggak parah sih, hanya mangap di bagian dalam. Sebenarnya bisa dibenerin dengan disol, tapi rasanya aku ingin sekali mengganti sepatu futsalku. Ceritanya sepatu futsal itu dibelikan adikku, dia juga main futsal. Mungkin supaya bisa gantian, jadinya ukuran sepatu itu mengikuti ukurannya. Ukuran sepatunya nomor 42, warna merah, karena aku minta yang warna merah. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Karena terlalu longgar, ketika aku pakai untuk menggiring dan menendang bola jadi kurang maksimal. Nah, pas rusak kemarin itu, ada alasan aku untuk membeli lagi sepatu futsal yang baru.

Baru kemarin sepatu itu aku beli. Aku cari di toko alat-alat olahraga di dekat tempat kerjaku. Sebelumnya aku bertanya ke temanku apa merek sepatu futsal yang bagus menurutnya. Temanku menyarankan Specs dan Nike. Sesampainya di toko itu aku bertanya ke penjualnya, “Mas, ada sepatu futsal Specs atau Nike tidak?”. Penjualnya menjawab, “Tidak ada sepatu futsal, kalau sepatu sepakbola ada yang Specs”. Kebetulan aku melihat ada sepatu futsal berwarna putih, mereknya Carvil. Aku coba memilih sepatu itu dan kupakai. Ternyata pas, padahal ukuran sepatu itu nomor 39. Sebenarnya terlalu sempit untuk ukuranku, ukuran sepatu atau sandalku adalah 40 kalau tidak ya 41. Tapi jarang sepatu atau sandal cewek ukuran 41.

Aku mencari yang nomor 40 tidak ada, ada pun nomor 41 itu longgar kalau dipakai, karena sepatu cowok. Akhirnya aku memilih nomor 39 itu tadi. Harganya lumayan murah, hanya Rp120 ribu. Kebanyakan sepatu dan sandal yang kupunya memang mereknya Carvil, aku lebih suka merek itu ketimbang yang lain. Selain karena awet, modelnya bagus, harganya pun terjangkau, apalagi kalau ada diskon.

Setelah melakukan pembayaran, aku bergegas menuju ke lapangan futsal yang letaknya juga tak jauh dari tempat kerjaku. Aku pakai sepatu baruku, cuma sayangnya aku lupa membawa kaos kaki yang tebal khusus untuk olahraga. Jadi aku pakai kaos kaki tipis yang biasa kupakai untuk kerja. Memasuki lapangan, pemanasan terlebih dahulu, menendang bola, menggiring bola. Rasanya enteng, tendangannya pun keras, pokoknya nyaman lah. Pertandingan pun dimulai, seperti biasa aku memang cewek sendiri yang main, tapi lawan dari tim lain sudah terbiasa main denganku, jadi tak masalah meskipun harus merebut bola, tabrakan denganku. Dan salah satu dari mereka selalu bilang ke temannya untuk selalu membentengiku supaya jangan sampai bola itu sampai ke kakiku. Sampai aku terjatuh karena merebut bola dari lawan mainku lalu kuinjak kakinya.

Sampai pertengahan main, mulai berasa sakit dan perih pada bagian atas tumitku. Aku lihat ternyata kakiku lecet. Kaos kaki yang kupakai memang terlalu tipis, jadi karena ada pergerakan dari kaki dengan ukuran sepatu ngepres menyebabkan kulit pada kakiku lecet. Untung saja waktu bermain sudah habis, langsung kucopot sepatu dan kaos kakiku. Maklum kaki orang priyayi.. jadi sedikit sedikit lecet. 😀

 

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: