Listen! (fiksi)

“Masih beruntung kamu ada yang mengingatkan, masih ada yang cerewet, masih ada yang menasihati, masih ada yang peduli dengan kamu. Coba kalau seumpama aku sudah tidak ada, aku tidak di sampingmu, siapa lagi yang akan peduli denganmu, siapa yang akan menjagamu, dan membimbingmu?”

Ucapan itu masih terngiang di telinga perempuan muda yang sehari-harinya bekerja di sebuah cafe dan rumahnya di ujung gang sebelah sana. Hari sudah menjelang sore, masih saja perempuan muda itu tak henti-hentinya merenung mendengar ucapan dari lelakinya itu melalui telepon. Dalam hati ia berkata, “Iya, ya, benar juga kata suamiku, aku memang belum bisa menjiwai apa yang ia katakan.” Selama ini perempuan muda itu merasa sudah selalu menuruti dan mendengarkan ucapan dari suaminya. Tapi, semua yang ia lakukan belum sepenuhnya benar dan belum sepenuhnya baik di mata suaminya.

Meskipun begitu, ia selalu diam dan introspeksi dengan apa yang dilakukannya, apakah yang dilakukannya sudah benar atau belum? Pernah ia bilang kepada suaminya, “Aku memang tidak bisa menjadi sempurna, aku belum bisa menjadi istri yang baik, dan aku selalu membantah dan tidak menurut.” Ya, memang semua orang di dunia ini tidak ada yang sempurna, bahkan seorang Nabi pun menurutku tidak sempurna karena sama-sama ciptaan Tuhan.

Di sekitar tempat tinggalnya, ia jarang sekali ngobrol dengan tetangganya, meskipun setiap hari selalu ketemu dengan orang-orang di sekitarnya. Bukan menjadi hobinya untuk menceritakan keluh kesah, masalah dengan tetangganya. Lagipula untuk apa menceritakan hal itu. Sama saja dengan menjadi gosip murahan gratis.

Sambil membersihkan meja yang sudah ditinggal pergi oleh pelanggannya, ia menemukan sebuah kartu nama yang sengaja ditinggal oleh pelanggannya. Nama dari seorang Direktur terkemuka sebuah perusahaan di Jakarta. Di situ tertulis, “Hubungi nomor ini, aku tau background pendidikanmu, silakan apply lamaran di perusahaanku. Kami butuh orang sepertimu.” Ada rasa haru bercampur senang, doanya terkabul. Ada harapan untuk mengubah hidupnya yang sekarang berpenghasilan pas-pasan supaya lebih baik.

Dengan rasa senang ia kembali ke rumahnya karena jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja. Menyiapkan berkas lamaran untuk diajukan ke perusahaan ternama di sana, menjadi seorang Accounting.

Semoga Tuhan menunjukkan jalan yang benar untuknya.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: