Turun temurun

IMG_9789

Nama lengkapnya saya kurang tahu, kalau tidak salah Kiswati dan biasa dipanggil Mbak Kis. Ibu ini punya saudara kembar namanya Mbak Kus. Kenapa saya mengambil sosok tokoh ini di tulisan saya? Ada hal menarik dari sosok ibu ini. Semenjak saya sekolah TK sampai sekarang saya punya si kecil yang sudah menginjak kelas 1 Sekolah Dasar, Mbak Kis ini masih tetap berjualan. Dan yang menjadi menariknya, dari dulu sampai sekarang, anak-anak di sekolahan memanggilnya dengan sebutan Mbak, meskipun dia sudah punya cucu. Berarti awet muda dong? Iya. Tempat beliau berjualan juga masih di tempat yang sama, di bawah pohon mangga.

Kalau dihitung sepertinya sudah lebih dari 15 tahun ibu ini berjualan di dekat sekolah TK di kampung halaman saya. Sedangkan saudara kembarnya berjualan ayam potong keliling komplek di tempat saya tinggal. Ibu ini hafal dengan saya, karena saya terkenal. Ceileehh.. macam artis saja saya ini. Tidak juga sih, eh.. tapi memang benar sih. Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang nenek, beliau bertanya kepada saya, siapa nama bapak dan ibu saya, lalu beliau bilang, “Oh, anaknya ibu itu yang mbah buyutnya terkenal dengan nasi ramesnya.” “Iya, mbah” kata saya. Dulu almarhum mbah buyut saya terkenal dengan berjualan nasi rames di tempat saya tinggal. Rasa khas nasi rames itu yang katanya enak. Yang membuat nasi rames itu enak karena penyajian nasinya yang pulen dan nikmat bila disantap. Kalau masak lauk lain juga enak. Mungkin itu yang menjadi warisan kenapa masakan ibu saya terkenal di tempat saya tinggal. Kalau masakan saya sendiri? Dijamin pasti juga enak. Sudah terbukti. πŸ˜€ #lebay

Saya masih ingat dulu waktu almarhum mbah buyut saya masih hidup, saya pernah disuruh makan. Diambilkannya sepiring nasi hangat dan lauk orek tempe hanya satu sendok saja. Namanya juga anak kecil ya sudah makan saja apa yang saya terima waktu itu. Kalau sekarang, lauk apa saja berlimpah dan mewah. Tapi, memang menyenangkan hidup di zaman serba murah waktu itu. Makanan juga masih alami dan menyehatkan. Ah, entah kenapa kalau menulis ini jadi teringat akan kakek, nenek, uwa yang sudah tiada. Semoga mereka tenang di alam sana.

Eh, ini cerita nggak nyambung ya? Nggak apa-apa lah ya.. πŸ˜€

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: