Merenung

Rasanya waktu untuk merenung dan menyendiri sudah cukup. Ternyata pikiran memang harus diistirahatkan sejenak dari hal-hal yang membuat kusut tak keruan. Kadang dalam hidup memang ada saat menjengkelkan dan menyebalkan. Seandainya saja saya selalu berpikir jernih menghadapi persoalan yang abal-abal dan tidak ada guna, mungkin pikiran dan hati saya tidak akan stress. Untuk persoalan yang besar saja saya bisa menghadapi, kenapa persoalan yang kecil yang diada-adain malah membuat pikiran saya mengalami kemunduran.

Belajar dari keadaan membuat saya selalu merasa bodoh setelah bisa melalui persoalan itu. Hal yang sepatutnya tidak saya lakukan seperti yang biasa dilakukan oleh anak kecil. Pada intinya saya memang harus selalu introspeksi diri, ada kalanya memang nasihat dari orang terdekat yang membuat saya menjadi berpikir dan merenungi apa yang sudah saya lakukan. Tapi, kadang saya juga masih belum bisa sepenuhnya menjadi yang saya lakukan ketika saya harus bersikap dewasa dalam menghadapi persoalan. Kalau kata orang sekarang masih labil. Apa mungkin karena faktor usia? Ah, tidak juga rasanya, saya juga sudah tuier. Kadang kala ada letupan-letupan kecil yang sekiranya menjadi permasalahan, padahal sebenarnya tidak ada. Inilah sebuah hidup, hidup sebenarnya memang sederhana, tapi bagaimana kita memaknainya untuk menjadi yang luar biasa.

Hari ini saya mendapat banyak cerita dari orang-orang di sekitar saya. Sederhana memang ucapan mereka, tapi kalau dipikir-pikir memang ada benarnya dan seharusnyalah saya merenungi dan menjalankannya, bukan hanya untuk didengar masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Nah, yang kadang saya itu sering lupa dengan nasihat orang. Saya lupa mau nulis apa tadi, kata-katanya mengena sekali, malah jadi lupa karena sudah berpikir yang lain.

Sebenarnya masih banyak orang-orang diluar sana yang mungkin hidupnya lebih parah dari saya. Tapi, mereka tetap menikmatinya. Ada beberapa cerita dari rekan kerja saya dari divisi lain, kami sering ngobrol bersama rekan-rekan yang lain. Dia mengatakan seperti ini, “Sejujurnya saya lebih senang di rumah (kerja di Indonesia), pulang kerja ada yang bukain pintu anak kecil yang badannya sekel, sambil joget-joget dan gaya karena senang papahnya pulang. Dan pasti cerita yang kadang-kadang nggak jelas karena daya khayalnya tinggi.”

Terharu mendengarnya, tapi mereka tetap menikmatinya karena itu memang sebagai tugas, tanggung jawab, dan kebutuhan. Ada lagi yang cerita tentang keluhan dari rekan kerja yang lain,

“Hari ini lagi males bener gue masuk kerja, bu. Gue bilang aja ada urusan keluarga. Percuma juga kerja kalau lagi nggak mood.”
Saya balas, “Tetap semangat, pak!”
“Semangat demi sebuah gaji, demi dapur ngebul, dan segenggam berlian.” jawabnya.

Ya, saya juga pernah mengalami hal semacam itu. Saat dimana saya merasa enggan untuk mengerjakan pekerjaan di tempat kerja. Padahal pada saat berangkat, semangat sudah menggebu-gebu ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan benar. Tapi, semangat itu hilang ketika sudah sampai di tempat kerja mungkin karena melihat suasana yang kurang mendukung dan bikin nggak asik.

Itulah sedikit cerita tentang apa yang saya alami.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: