Jalan-jalan

IMG_0308

Perjalanan dimulai di pagi hari, pukul 5.30 kami beranjak dari rumah ke stasiun di Cikarang. Suasana lumayan dingin, tidur pun sebenarnya kurang nyenyak karena semalam agak panas. Akhir-akhir ini memang tidur saya agak gelisah, entah karena memang suasananya atau karena hal lain.

Menuju stasiun Cikarang suasana masih sepi, beberapa orang sudah berkumpul di sana menunggu kedatangan kereta api dari arah Purwakarta. Saya membeli dua buah tiket untuk perjalanan menuju ke stasiun Jakarta Kota atau sering disebut stasiun Beos. Tujuan kami adalah pasar Glodok, Jakarta. Tiket kereta saya beli seharga Rp 2.500,- untuk per penumpang. Harga yang sangat murah dibanding dengan transportasi lainnya. Biasanya kalau perjalanan ke Jakarta kami menggunakan sepeda motor. Tapi kali ini kami ingin mencobanya dengan menumpang kereta api. Alasannya, perjalanan menggunakan kereta api tidak ada macet.

Beberapa saat kemudian datanglah kereta api ekonomi jurusan Purwakarta – Jakarta Kota. Kami bergegas naik ke dalam gerbong. Saat masuk ke dalam gerbong, banyak perubahan yang terjadi, suasana dingin karena AC dan kebersihan tempat duduk beserta lantai-lantainya membuat suasana menjadi berbeda dan berbanding terbalik dengan beberapa tahun silam. Terakhir kami menggunakan kereta api sekitar tahun 2006, baru beberapa bulan yang lalu saya menggunakan kereta api dengan teman saya yang dari Bali untuk perjalanan pulang ke Cikarang. Kalau untuk masalah tempat duduk, jendela, dan lain-lain di dalam gerbong memang masih yang lama, tidak ada yang diganti baru. Hanya beberapa saja yang ditambah seperti AC dan mungkin cover dari bangku itu.

Kami memilih tempat duduk yang berhadapan dengan bapak dan ibu yang usianya mungkin sudah diatas 50 tahun. Saya kira mereka pasangan suami istri, ternyata bukan, karena mereka ngobrol seperti sudah lama kenal. Akhirnya di stasiun Bekasi salah satu dari mereka turun karena sudah sampai di tempat tujuan. Kami mendengarkan lagu-lagu yang saya putar di handphone. Earphone saja kami bagi dua, satu di telinganya dan satu lagi di telinga saya. Lagu yang saya putar adalah lagu-lagu pop barat zaman dulu. Entah siapa penyanyinya saya memang tidak hapal, tapi saya senang mendengarkan lagunya. Soalnya saya belum lahir ketika lagu itu tenar, cuy.. 😀

Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1 jam dan berhenti di beberapa stasiun seperti di Tambun, Bekasi, Jatinegara, Senen, terakhir di Jakarta Kota. Sesampainya di stasiun Beos kami langsung keluar melalui pintu keluar khusus kereta lokal sambil menyerahkan tiket kami. Suasana masih belum begitu ramai, kami langsung jalan kaki menuju ke Glodok. Pusat penjualan barang-barang elektronik, dan peralatan rumah tangga lainnya. Kami berjalan kurang lebih 300 meter dari stasiun. Jalanan masih lengang, bahkan beberapa saja yang lewat. Sepi sekali saat itu. Toko dan tempat perbelanjaan lain juga masih tutup. Beberapa busway masih parkir di halte dan belum dioperasikan. Kami mencoba cari tempat makan untuk sarapan. Mampirlah kami ke sebuah warung, kemudian kami berlalu lagi karena tidak ada menu yang cocok untuk sarapan kami. Entah, kalau untuk urusan makan di luar rasanya kami memang pilih-pilih. Kalau tidak cocok ya tidak usah makan. Lalu perjalanan kami lanjutkan ke tempat perbelanjaan sebelah sana lagi masih di Glodok. Sama, suasana masih sepi karena hari libur nasional, hari raya Iduladha.

IMG_0312

Karena lumayan lama menunggu, kami menyempatkan pergi ke komplek Kota Tua yang letaknya tidak terlalu jauh dari situ. Kami jalan kaki sampai ke sana. Suasana sudah mulai ramai, mulai banyak pengunjung yang datang. Di bawah pohon kami berhenti dan kebetulan ada seorang ibu yang sedang berjualan pecel di situ. Kami langsung memesan dua porsi. Lumayanlah untuk sarapan pagi dengan menu seperti itu.

IMG_0374

IMG_0360

IMG_0327

Pukul 10.00 WIB kami beranjak dari Museum Fatahillah ke Glodok dengan berjalan kaki. Memasuki kawasan pertokoan mencari yang kami cari. Naik turun tangga menyusuri lorong dan kios barang-barang elektronik. Ternyata yang kami cari tidak ada, katanya ada di gedung sebelahnya. Dari situ kami ke gedung yang dimaksud, ketemulah dengan apa yang kami cari. Sekadar bertanya harganya saja, rupanya masih mahal. Kurang lebih satu jam berkeliling, kami kembali lagi menuju ke stasiun Beos untuk membeli tiket perjalanan pulang. Karena waktu pemberangkatan pukul 13.30 WIB dan masih ada waktu kurang lebih 2 jam lagi, kami menuju ke komplek kota tua. Dari stasiun ke komplek kota tua kurang lebih 200 meter. Sepanjang jalan suaca sangat panas, bau yang tidak sedap membuat saya mual. Bau pesing, bau selokan semua campuraduk jadi satu. Ah, rasanya sudah tak kuat kalau harus berlama-lama mengalami situasi seperti ini.

Di komplek kota tua kami duduk kembali di tempat yang tadi. Membeli dua botol air mineral dingin. Segarnya..

Pukul 12.30 WIB menuju ke stasiun lagi. Sesampainya di stasiun tak lupa kami membeli kopi panas. Tak sedap rasanya kalau tak minum kopi, sebatas formalitas kalau minum kopi itu. Dari arah timur datanglah kereta api ekonomi jurusan Purwakarta – Jakarta Kota. Akhirnya kereta yang kami tunggu sudah datang. Bersamaan dengan datangnya kereta ekonomi, berangkatlah kereta eksekutif jurusan Surabaya. Suasana di pemberhentian kereta api sekarang jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Sekarang bersih, rapi, teratur, dan tidak semrawut. Tidak ada yang namanya orang berjualan di emperan tempat pemberhentian terakhir kereta api. Perubahan yang menyenangkan.

IMG_0421

IMG_0383

IMG_0394

IMG_0398

IMG_0399

IMG_0406

Di dalam kereta saya duduk berhadapan dengan seorang ibu-ibu, usianya sih kurang lebih 40-an. Dia mengajak bercerita dari mulai masalah pekerjaan sampai rumah tangganya. Ada beberapa cerita yang membuat saya menjadi terdiam dan merenung dengan yang dialaminya. Menjadi tolok ukur dengan kehidupan saya sekarang ini.

Tanpa terasa sudah satu jam perjalanan, kami berhenti di stasiun Cikarang. Cerita ibu-ibu itu masih terngiang di telinga saya sampai sekarang.

IMG_0443

IMG_0440

Baru saja ngetik tulisan ini, saya merasa lapar. Lalu saya bilang, “Duh, jadi lapar” Eh, kebetulan pak bos dengar dan mengambilkan sepotong kue ulang tahun yang ada di meja kemudian diberikan kepada saya. “Nih, katanya lapar” ucap pak bos. “Hehehe.. eh, iya pak, terima kasih” jawab saya. Dan rekan sebelah saya pun ikut-ikutan ngasih roti gandum. Sudah dulu ya, saya mau makan, lapar soalnya. Mari makan!

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: