Perjalanan “Gila”

Mungkin cerita ini sekilas seperti omong kosong dan tidak percaya dengan apa yang saya lakukan. Dan saya sendiri juga masih belum percaya dengan hal ini. Baiklah, cerita ini akan saya mulai.

Pukul 02.00 WIB

Hari sabtu tanggal 09 November 2013 dini hari, alarm handphone berbunyi membangunkan saya tiba-tiba ketika sedang tidur. Saya bangun dan bergegas mandi. Semua perlengkapan seperti baju, celana, kamera, dokumen, dan lain-lain sudah dipersiapkan tadi malam. Saya tak bermain futsal supaya tidak terlalu capek. Mandi juga tidak terlalu lama, cukup bersih saja supaya badan lebih segar. Mengenakan celana jeans, kaos oblong, kemudian jaket, kaos kaki, dan sepatu sandal. Jam tangan tak lupa juga saya pakai. Sepeda motor saya keluarkan dari rumah. Sebelum berangkat terlebih dahulu berdoa memohon keselamatan supaya lancar dalam perjalanan.

Pukul 02.30 WIB

Semua pintu kamar dan ruang depan sudah saya kunci semua. Sepeda motor saya panasi sebentar. Kebetulan memang saya sendiri karena pacar sedang tugas malam sehingga saya harus pergi seorang diri. Sebelumnya saya sudah meminta izin dan direstui karena urusan ini memang sangat mendadak dan penting. Tidak tega sebenarnya membiarkan saya harus pergi seorang diri, tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan yang membuat saya harus pergi sendiri.

Keluar komplek perumahan, mampir sejenak ke warung yang berjualan bensin, kebetulan warung itu buka 24 jam. Dua liter bensin saya isi untuk sepeda motor karena kemarin malam tidak sempat untuk mengisinya di pom bensin. Rp17 ribu untuk dua liter bensin dan 1 botol air mineral.

Pukul 02.45 WIB

Perjalanan saya mulai, sambil berdoa kembali saya gas sepeda motor menuju ke tujuan saya ke kampung halaman di Purbalingga. Pulang kampung dengan sepeda motor? Ya, saya pulang kampung mengendarai sepeda motor seorang diri ke Purbalingga. Saya tidak menggunakan bus karena saya harus membawa sepeda motor itu pulang untuk keperluan yang sangat mendesak karena plat nomor kendaraan saya masih daerah Purbalingga. Kendaraan itu sebagai jaminan untuk suatu urusan penting di kampung dan mendesak, jadi harus dibawa pulang.

Jalanan masih sepi, beberapa kendaraan melintas. Suasana juga masih sepi karena jam segitu adalah waktunya orang nyenyak tidur. Saya melalui jalan pintas di perumahan, melewati rel kereta api untuk menuju ke Karawang. Di persimpangan beberapa anak kecil sedang mengatur lalu lintas. Beberapa kendaraan melintas. Saya heran kenapa anak kecil jam segini masih berkeliaran di jalan, menjadi “Pak Ogah” mengharapkan duit recehan. Entahlah, dunia seperti terbalik, siang hari yang mengatur lalu lintas adalah orang dewasa, sedangkan dini hari yang mengatur lalu lintas malahan anak-anak kecil. Saya tak sempat mengambil gambar karena gelap dan waktu yang saya target. Target saya sebelum atau paling lama pukul 10.00 WIB harus sudah sampai di tempat tujuan. Ini memang terdengar gila, kalau pukul 10.00 WIB sudah sampai di tempat tujuan berarti target waktu saya harus selama 7 jam perjalanan. Saya yakin dalam hati, saya pasti bisa. Sebenarnya waktu normal untuk perjalanan ke kampung halaman mengendarai sepeda motor dari Cikarang ke Purbalingga adalah 9 jam, itu sudah termasuk dengan istirahat. Bus saja rata-rata 9 jam sampai di Purbalingga.

Tapi saya tetap yakin kalau saya mampu. Sepeda motor saya laju dengan kecepatan 100 km/jam melalui Karawang. Suasana gelap, beberapa kendaraan melintas bersamaan. Sepeda motor saya pacu lebih kencang. Rencananya setelah sampai di Karawang, saya mampir ke pom bensin untuk isi bensin penuh. Tapi, sesampainya di pom bensin, ternyata tutup karena stok premium habis. Saya menggunakan premium, sebenarnya lebih bagus menggunakan pertamax. Hanya saja budgetnya saya tekan supaya pengeluaran tidak terlalu banyak, toh sama saja (padahal ngirit iya). Dua sepeda motor melintas, plat nomor B…. sepertinya sama seperti saya, akan pulang ke kampung juga. Di jalan, dari luar saya memang tidak terlihat seperti perempuan yang mengendarai sepeda motor karena semua tertutup rapat. Slayer pemberian dari bu Henny saya gunakan untuk menutupi separuh wajah saya supaya tidak terlalu banyak menghirup polusi kendaraan. Saya tidak melewati rute Karawang kota yang situasinya lebih ramai dan lebih terang. Saya memilih melalui rute yang biasa dilalui oleh para pengendara yang sering pulang kampung. Tapi, jalanan ini dikenal orang dengan banyak cerita yang saya dengar dari teman, dari adik saya kalau di jalan itu rawan, terutama yang daerah Rengasdengklok. Pelaku kejahatan yang merampas sepeda motor tak segan-segan melukai pengendara motor. Ngeri juga sih sebenarnya, tapi saya tak mau berpikiran buruk tentang semua itu. Saya lebih banyak berdoa.

Sesampainya di persimpangan Jomin, Cikampek, jalanan sudah mulai ramai kendaraan karena di situ adalah tempat keluarnya kendaraan dari Tol Cikampek yang menuju ke arah Cirebon melalui jalur pantura (Subang – Indramayu – Cirebon). Ketika melewati persimpangan Jomin, saya melaju kencang untuk mendahului truk besar yang letaknya persis di depan sebelah kiri, saya dikejutkan dengan ban meletus dari truk besar tersebut. Dhuaaarrr…! Rasanya jantung ini seperti mau copot karena persis di depan saya, takutnya ban motor saya yang meledak. Jantung masih berdebar karena kejadian tadi. Hhhh…nasib baik tidak sampai oleng truknya.

Pukul 03.30 WIB

Beberapa meter dari kejadian itu, ada pom bensin. Saya mampir untuk mengisi tangki sepeda motor dengan bensin penuh. Saya hanya kira-kira saja, saya bilang ke mas petugas Rp70 ribu saja. Dan memang benar, harga segitu sudah penuh tangkinya. Kemudian saya ambil handphone dan kirim sms ke pacar kalau saya baru sampai di Cikampek. Slayer saya kenakan lagi kemudian, saya langsung cabut meneruskan perjalanan. Saya tidak mengenakan sarung tangan karena agak ribet. Ketebalan sarung tangan memengaruhi tarikan gas sepeda motor. Apalagi sepeda motor yang saya gunakan adalah sepeda motor kopling yang berat dan kapasitasnya 225cc.

Sepeda motor melaju dengan kecepatan rata-rata 80 – 100 km/jam sesuai dengan jalan yang saya lalui, kalau sedang sepi dan jalanan mulus saya pacu sampai 100 km/jam. Gelap memang, saya sendiri agak was-was kalau suasana gelap jika ada jalan yang berlubang atau tiba-tiba ada kendaraan lain yang memotong dan melawan arus. Kalau untuk perjalanan malam hari diatas pukul 22.00 WIB saya tidak sanggup karena faktor penglihatan. Tapi, berhubung ini dini hari dan pasti beberapa jam lagi terang, jadi saya tetap konsentrasi dan memberi sugesti untuk saya sendiri. Sepanjang jalan saya banyak berpikir, mulai dari keluarga, teman-teman, dan lain-lain. Ngelamun? Mmm… sepertinya iya, tapi mata, tangan, dan kaki tetap konsentrasi menyetir sepeda motor. Dan kadang pikiran malah entah ke mana.
Di tengah jalan terpasang papan penunjuk arah, “Cirebon 139 km”. Itu artinya belum setengah perjalanan saya lalui.

Pukul 04.15 WIB

Suasana mulai ramai dengan kendaraan seperti mobil, bus, dan truk yang saling mendahului, termasuk dengan sepeda motor saya. Pandangan sudah mulai sedikit kacau, mata sepertinya mulai mengantuk, entahlah..tapi semangat masih terus ada, saya mencoba mengacaukan pikiran manja saya dengan memikirkan hal-hal yang membuat saya sedikit emosi. Sekadar untuk menyegarkan pikiran yang sudah mulai layu karena jam segitu memang waktu yang sangat krusial, mengantuk.

Suasana dingin menyelimuti perjalanan saya, tas ransel saya taruh di depan untuk menutupi bagian depan tubuh saya supaya tidak terlalu banyak menerpa angin karena jaket yang saya kenakan bukan jaket tebal seperti yang biasa dipakai oleh para rider. Jaket kain yang tipis dan longgar berwarna biru dongker. Beberapa mobil yang melintas berkali-kali saya dahului. Mungkin mereka tak tahu kalau yang mengendarai sepeda motor ini adalah seorang perempuan. Mungkin kalau anda melihat saya mengendarai di jalan akan berpikiran sama, kecuali dengan penampilan yang berbeda.

Beberapa kendaraan seperti truk berhenti di tepi jalan karena mogok atau karena ban kempes.

Pukul 04.45 WIB

Tetesan air hujan mulai turun, tapi tidak terlalu deras. Saya tetap melaju dengan kecepatan tinggi. Saking semangatnya sampai hampir nubruk mobil yang ada di depan, untungnya masih ada jarak sekitar 50cm. Saya berdoa dan yakin bahwa tidak akan turun hujan lebat. Sepertinya harapan memang ada, di ufuk timur sana terlihat langit cerah membuka gelapnya pagi ini. Perlahan tapi pasti, seperti tirai yang sedang dibuka, cahaya langit cerah itu semakin lama semakin lebar. Rintikan air gerimis terus saja menetes, sedikit membasahi tas bagian depan dan lengan jaket. Celana bagian bawah sudah tak saya pedulikan. Tetesan itu kemudian terabaikan karena di sebelah kanan nun timur jauh di sana langit cerah dengan pemandangan sebuah gunung Ciremai sudah mulai kelihatan. Beberapa kali saya menengok ke kanan, berharap saya bisa mengabadikan gambar itu.

Cahaya di ufuk timur sudah mulai merekah.

Cahaya di ufuk timur sudah mulai merekah.

Pukul 05.00 WIB

Saya berhenti di pertigaan Lohbener, Slaur, Indramayu karena gerimis lumayan deras. Saya berhenti di gubuk yang biasa tukang ojek berkumpul. Kebetulan tidak ada seorang pun di sana, dan sebelahnya adalah warung yang masih menyala karena mungkin buka selama 24 jam. Kamera saya ambil dari dalam tas untuk mengambil gambar pemandangan pagi dengan gunung Ciremai yang terlihat indah. Saya sering melihat jam tangan karena saya mengejar target waktu. Dalam situasi sekarang ini, “Time is money, waktu adalah uang” jadi mau tidak mau sebentar saja saya ambil gambar, kemudian kirim sms ke pacar bahwa saya sudah berada di Indramayu. Sementara gerimis rintik-rintik masih menetes, saya tetap melanjutkan perjalanan, saya tak memakai jas hujan karena saya yakin di sebelah timur sana saya tidak akan menemui hujan.

Karena gerimis yang masih turun, membuat jalan menjadi licin dan becek meskipun jalan aspal. Celana jeans sudah berwarna cokelat di bagian bawah karena kotor lumpur jalan. Tas bagian depan juga mulai basah. Saya memacu kendaraan hingga akhirnya harapan saya memang kenyataan. Selepas daerah Slaur tadi, gerimis sudah berhenti bahkan kering karena memang di daerah tersebut tidak turun hujan meskipun mendung.

Dan lagi, hampir saja sepeda motor itu ketabrak oleh motor saya. Ceritanya saya sedang melaju kencang, tiba-tiba dari arah kanan ada sebuah sepeda motor yang memotong jalan, kurang sedikit lagi mungkin bisa keserempet. Syukurlah saya masih bisa mengelak. Huh… bikin jantung berdebar lagi.

Jalan lurus menuju ke arah cahaya di ufuk timur yang perlahan semakin indah dan semakin cerah. Seperti semangat saya untuk cepat sampai di tempat tujuan, semangat saya untuk mengambil momen ketika matahari terbit. Saya melaju dengan kecepatan tinggi, jalanan yang saya lalui mulus dan lurus, tak terasa saya melihat speedometer sampai tercengang karena angka menunjukkan 120. Itu artinya saya melaju dengan kecepatan 120 km/jam. Sungguh menakjubkan sekaligus mendebarkan.

Perlahan tapi pasti.

Perlahan tapi pasti.

Pagi yang cerah dan menyenangkan

Pagi yang cerah dan menyenangkan

Mulai terlihat gagah dari kejauhan

Mulai terlihat gagah dari kejauhan

Sejenak beristirahat dan mesin pun sudah panas

Sejenak beristirahat dan mesin pun sudah panas

Matahari terbit jauh di  sana

Matahari terbit jauh di sana

Jauh di Indramayu, langit masih mendung

Jauh di Indramayu, langit masih mendung

Arah ke Cirebon ke kiri dan Bandung ke kanan.

Arah ke Cirebon ke kiri dan Bandung ke kanan.

Menuju ke persimpangan

Menuju ke persimpangan

Matahari sudah mulai memunculkan keindahannya.

Matahari sudah mulai memunculkan keindahannya.

Pukul 05.30 WIB

Saya berhenti di perbatasan Indramayu dan Cirebon setelah melewati gapura tinggi bertuliskan “Selamat datang di Cirebon”. Pagi ini memang cerah, sangat cerah malahan. Kamera saya keluarkan untuk mengabadikan momen matahari terbit dari sebelah timur. Di tepi jalan yang kanan kirinya sawah, suasana pagi yang cerah dan munculnya matahari pagi menjadi penyemangat. Beberapa gambar sunrise dan gunung Ciremai yang berdiri kokoh di sebelah selatan menjadi pemandangan menakjubkan. Jalan terasa bergetar karena beberapa kendaraan seperti truk dan bus besar melaju kencang, seperti gempa lokal. Hanya beberapa menit saja saya merasakan indahnya ciptaan Tuhan ini karena jam sudah menunjukkan mendekati pukul 06.00 WIB.

Motor kembali saya nyalakan, sepertinya ada masalah di stater yang tidak bisa dinyalakan. Mau tak mau saya harus nge-slah, menyalakan sepeda motor manual. Berat memang untuk ukuran sepeda motor seperti Scorpio (Kalajengking Merah). Akhirnya, bisa juga dinyalakan . Perjalanan saya lanjutkan lagi, beberapa mobil seperti BMW, Avanza, Innova saya dahului karena saya tak menyangka angka 120 masih bisa saya capai. Mereka tertinggal jauh di belakang.

Beberapa saat dari situ bersamaan dengan sebuah sepeda motor V-ixion keluaran terbaru, sepertinya juga akan pulang kampung kalau melihat penampilannya. Tapi yang ini lebih bersih, mungkin saja tidak lewat jalan yang gerimis tadi. Kami berpacu layaknya pembalap yang di MotoGP (ah, lebay). Saya tertinggal beberapa detik, dan ketika saya akan mendahului, tarikan saya kendurkan karena beberapa ratus meter dari situ terlihat sebuah truk yang guling di tengah jalan. Jalan yang kami lalui memang satu arah, tapi truk itu terguling hampir menutup setengah jalan. Mau tak mau kami memperlambat kecepatan, saya tak sempat mengambil gambar karena buru-buru.

Masih di kecepatan tinggi saya memacu sepeda motor, kemudian bersimpangan dengan mobil yang ke arah kiri karena melewati jalan tol jurusan Kanci – Pejagan. Dan saya sendiri melewati kota Cirebon, tapi tidak terlalu masuk ke kotanya. Hanya melewati beberapa pasar tumpah, beberapa lampu lalu lintas menyala merah, melalui jalan by pass Cirebon. Di jalan ini saya selalu ingat dengan kejadian enam tahun silam. Kejadian kecelakaan yang membuat pacar harus dirawat di rumah sakit, terluka sampai harus dijahit di kaki dan di wajah. Dan saya sendiri harus bolak balik mengurus segala macam, dan hampir saja menghadapi penipuan. Dan tidak satu pun keluarga kami yang tahu. Hanya kami berdua dan beberapa teman di tempat kerja yang dulu. Itu cerita masa lalu.

Pukul 06.30 WIB

Jalanan sudah mulai ramai anak-anak yang akan berangkat ke sekolah. Pasar juga sudah mulai ramai para pedagang dan pembeli. Tidak begitu macet, matahari bersinar cerah menemani perjalanan saya yang super ngebut.

Mendekati Cirebon daerah perbatasan, pasar sudah mulai ramai para pedagang. Karena dekat dengan laut, mereka banyak berjualan ikan-ikan segar dan hewan laut lainnya, seperti tongkol, ikan pari, kepiting, udang, terasi dan sembako juga ada. Sampai terbawa suasana, saya memandangi tangkapan dijual oleh para pedagang yang sebagian besar adalah ibu-ibu itu. Tak terasa sampai ke pinggir, sampai saya sadar bahwa waktu sudah siang.

Pukul 06.45 WIB

Berhenti di SPBU Tanjung, Brebes karena saya kebelet ingin buang air kecil. Setelah beres, saya merapikan kembali perlengkapan, minum beberapa teguk, saya belum makan apa-apa, baru minum saja. Perjalanan saya lanjutkan, bensin masih cukup untuk perjalanan sampai di tempat tujuan. Beberapa orang memperhatikan saya. Seorang perempuan yang mengendarai motor sport lelaki dengan plat nomor daerah Banyumas, bepergian seorang diri pulang ke kampung halaman. Meskipun saya tak banyak bicara, dan mereka juga tak bertanya kepada saya. Dalam hati mereka pasti berpikiran seperti itu.

Pukul 07.00 WIB

Mulai banyak kendaraan, bus mini, truk, becak, dan kendaraan lain sudah ramai. Mendekati pertigaan yang dibatasi rel kereta api di daerah Ketanggungan, Brebes, jalanan mulai macet karena sedang ada perbaikan jalan, dicor. Ada celah kecil yang memungkinkan saya bisa melewatinya, tapi terlambat, saya kelewatan dan sudah tak mungkin berputar karena kendaraan di belakang sudah mulai padat. Akhirnya di depan ada juga tikungan yang memungkinkan saya untuk putar balik ke arah Pejagan, Brebes. Mendekati rel kereta api, pintu palang mulai menutup, saya kaget dan pintu palang juga sepertinya kaget karena saya melintasi pintu tersebut.

Lepas dari Gerbang Tol Pejagan, kurang lebih 300 meter dari situ ramai orang, perasaan saya pasti ada kecelakaan. Ternyata benar, di sebelah kanan jalan saya melihat seseorang dan sepeda motor tergeletak. Orang itu pingsan, entah kalau dia selamat atau tidak. Yang saya heran, di situ berhenti sebuah truk, sepertinya ketabrak sampai terpental ke pinggir jalan. Orang yang tergeletak itu belum ada yang menolong padahal di situ sudah banyak orang. Saya berlalu saja karena saya ingin segera sampai ke Purbalingga. Maafkan saya, tak mampu menolongnya.

Berhenti sejenak di perlintasan kereta api karena ada kereta barang yang akan melintas, lumayan sekitar 5 menit menunggu.

IMG_0973

IMG_0970

IMG_0972

Pukul 07.30 WIB

Melalui daerah Songgom, jalur dua arah yang tak begitu lebar namun cukup untuk dua truk ukuran besar. Sepanjang jalan adalah sungai yang mengalir, samping kiri kanan terbentang sawah, ladang bawang merah, jagung, tebu. Brebese memang terkenal dengan penghasil bawang merah dan telur asin. Banyak kios kecil yang menjual bawang merah dan telur asin di sana. Kendaraan belum begitu ramai, tapi saya tetap ngebut. Di Songgom, saya bertemu lagi dengan mobil BMW, Avanza, Innova yang melaju bersamaan. Saya mendahului mereka, terus sampai akhirnya saya berhenti sejenak karena melihat pemandangan pegunungan yang menarik untuk diambil gambar. Ketika sedang mengambil gambar, mereka melintas di depan saya. Sekalian saja saya ambil gambar mobil itu dari belakang karena mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.

Sejenak saja saya berhenti, waktu sudah siang, kurang lebih satu setengah jam lagi saya harus sudah sampai di Purbalingga. Ada masalah lagi rasanya dengan stater otomatisnya, dan kembali lagi saya harus nge-slah manual. Syukurlah berhasil, lalu saya kembali ngebut. Kelihatan dari jauh mobil itu, saya kebut akhirnya bisa juga melewati mereka lagi. Pemandangan pagi yang cerah memang menyenangkan.

Jalan raya mulai dari Prupuk, Tegal sudah banyak dipasang seperti lampu di marka jalan. Gunanya untuk memudahkan pengendara roda empat atau lebih untuk melalui jalanan ini ketika malam hari. Karena jalur yang dilalui adalah jalur dua arah dan tidak terlalu lebar, sama seperti jalur yang di Songgom tadi. Dan jalur ini memang berkelok-kelok, kiri kanan hutan jati dan kadang juga jurang, kalau malam memang gelap karena lampu belum semuanya menerangi sepanjang jalan ini. Mesti hati-hati, jangan sampai mengantuk.

Dua perlintasan kereta api saya lewati. Dan kebetulan tidak ada kereta api yang melintas pagi itu.

Pukul 08.00 WIB

Jalan lingkar Indramayu, lega rasanya jika sudah sampai sini. Perjalanan akan segera sampai meskipun jarak tempuh masih lumayan jauh. Dingin masih saja menyelimuti karena daerah situ memang dingin, daerah yang dikelilingi pegunungan. Sampai berpikir, nyenyak sekali tidur berselimut tebal dengan suasana dingin seperti ini.

Karena jalanan masih berkelok-kelok dan banyak jurang. Saya mengurangi kecepatan hingga sampai melewati daerah Pekuncen, Banyumas. Kemudian sepeda motor saya pacu lagi di jalan dua arah Ajibarang. Berkurang sebentar kecepatan karena di Cilongok sudah ramai orang yang beraktivitas di pasar. Berlanjut ke Karanglewas, Purwokerto.

Pukul 09.00 WIB

Saya sudah sampai di Sokaraja, berhenti sejenak karena lampu lalu lintas berwarna merah. Hanya beberapa detik saja kemudian saya kebut lagi sampai menuju ke Purbalingga. Tulisan terpampang di baliho dan gapura, “Selamat datang di Kota Purbalingga”. Syukur Alhamdulillah saya sudah sampai di tempat tujuan. Saya tak langsung ke rumah, tetapi menuju ke tempat di mana saya harus menyelesaikan urusan saya dengan pihak instansi.

Pukul 09.15 WIB

Tiba di tempat, saya masih belum percaya dengan apa yang saya lakukan. Selama kurang lebih 6 jam 30 menit saya menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih 336 km, itu sudah termasuk istirahat beberapa menit. Untuk normalnya sebenarnya perjalanan itu ditempuh selama 9 jam.

Ternyata pihak yang ingin saya temui malah sudah menunggu di rumah. Saya mampir sebentar di tempat fotokopi yang letaknya di sebelah timur Alun-alun Purbalingga untuk fotokopi dokumen yang perlu dipersiapkan. Pak petugas parkir yang sudah berusia lanjut sambil memegang tongkat untuk membantu berjalannya bertanya kepada saya, “Mbak, mahasiswa, ya?”

“Bukan, pak. Saya sudah bekerja,” kata saya

“Kerja? Di mana?,” tanya beliau

“Di Cikarang, Bekasi,” jawab saya

“Oh, Bekasi, di bagian apa?”, tanyanya lagi

“Karyawan, pak. Di Finance,” jawab saya

“Jadi ini baru pulang sampai dari Bekasi, berangkat jam berapa?” balas bapak itu

“Iya, ini baru sampai, berangkat jam 3 tadi. Ini mau pulang ke rumah di KDM,” jawab saya

“Oo… iya, iya,” kata bapak sambil mengacungkan ibu jarinya

“Mari, pak!” saya kemudian berlalu.

Sesampainya di rumah beberapa orang sudah menunggu di depan rumah. Langsung saja pembicaraan kami lanjutkan. Ada urusan yang harus saya selesaikan.

Dan Sabtu ini saya juga membatalkan ketemuan dengan seorang teman jiples, MTA Suandi yang rencananya akan ke Senayan untuk datang ke Jakarta Book Fair 2013. Maaf, saya harus pulang ke kampung halaman. Ada urusan mendadak dan penting.

Itulah sekilas tentang perjalanan “Gila” saya yang mungkin bisa dibilang berbahaya. Tetap seperti yang sering saya bilang, “Jalanan itu berbahaya, sebagus dan secanggih apapun kendaraan yang dipakai, sekuat apapun pengendara yang mengendarai, tetap saja namanya musibah tidak akan ada yang menduga. Maka dari itu berhati-hatilah, dan banyak berdoa.”

Terkadang hidup memang seperti keadaan di sepanjang jalan pantura, perjalanan pulang menuju kampung halaman. Di sana kamu akan menemui banyak hal, kadang ada sesuatu yang membuatmu emosi, menyenangkan, menangis, kesal, bahkan terdiam karena tidak tahu apa yang akan kamu lakukan.

Bagaimana dengan perjalanan balik ke Cikarang yang hanya berselang 22 jam kemudian? Nanti kalau sempat akan saya ceritakan. Yang pasti waktu perjalanan jauh lebih lama ditempuh. Dan sudah pasti bisa ditebak, kondisi tubuh saya sedikit ngedrop. Sepertinya kena ISPA yang disebabkan karena debu dan polusi. Tapi, tidak apa-apa, saya juga tidak akan ke dokter. Cukup minum air putih hangat saja untuk mengurangi. Kalau sudah parah barulah ke dokter.

Berangkat melanjutkan perjalanan.

Berangkat melanjutkan perjalanan.

Numpang narsis dengan tampilan tertutup.

Numpang narsis dengan tampilan tertutup.

Yang membawaku sampai ke tempat tujuan.

Yang membawaku sampai ke tempat tujuan.

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: