Secangkir kopi & buku “Selimut Debu”

secangkir kopi mocca dan buku "Selimut Debu"

secangkir kopi mocca dan buku “Selimut Debu”

Buku “Titik Nol” yang bercerita tentang perjalanan Agustinus Wibowo yang banyak memberi makna tentang arti kehidupan, membawa saya untuk lebih jauh mengikuti perjalanannya di buku berikutnya. Buku berjudul “Selimut Debu” menceritakan perjalanannya di Afghanistan. Dan satu lagi, “Garis Batas” yang masih terbungkus rapi dengan plastik dan barcode dari toko buku.

Dua kopi mocca panas menemani sore kami dengan diiringi hujan rintik-rintik di barisan tempat duduk di sebuah tempat perbelanjaan di Jababeka. Saya membuka buku itu, sambil menyeruput kopi yang sudah mulai hangat.

“Di sini semua mahal. Yang murah cuma satu: nyawa manusia”, begitu kalimat yang ada di cover depan buku. Baru beberapa halaman yang saya lewati ketika saat itu Agustinus dan Adam sedang bermain di puing-puing bekas perang dengan peluru berserakan di sekitarnya.

Dia sedang asyiknya bermain handphone membaca berita online. Saya sendiri sudah tak kuasa menahan rasa kantuk yang amat sangat. Secangkir kopi yang saya minum sudah habis. Tidak, saya tidak meminumnya sekaligus seperti orang kehausan. Saya mencoba belajar untuk menikmati secangkir kopi dengan perlahan. Menikmati suasana. Menikmati aroma dan manisnya kopi instan Kapal Api Mocca. Lalu saya menundukkan kepala di meja dengan kedua tangan sebagai bantal. Beberapa detik saja saya hampir terbang ke alam mimpi, kemudian terbangun. Begitu terus berulang kali. Hingga akhirnya ada hal yang membuat saya terbangun dan beranjak dari tempat duduk.

Kepulan asap rokok itu membuat kepala saya langsung pusing. Seperti biasa, saya tak mau berlama-lama bertahan dengan asap rokok dari seseorang yang sedang merokok persis di belakang tempat duduk saya. Saya masukkan buku ke dalam tas, pergi menuju ke tempat parkir untuk pulang ke rumah.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

2 Komentar

  1. It’s a bit strange i think, you should read from Selimut Debu, Garis Batas then Titik Nol. πŸ˜›

    Balas

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: