Tahun Baru

31 Desember 2013

Secangkir Torabika Cappucino panas menghangatkan telapak tangan saya yang kedinginan. Sepanjang jalan, gerimis mengiringi perjalanan saya dari kontrakan menuju ke tempat kerja. Jas hujan yang saya kenakan pun tak kuasa menahan air hujan. Tembus hingga ke baju dan celana yang saya kenakan. Sedikit mulai kering karena suhu badan yang memang selalu hangat.

Rasa enggan untuk mengerjakan pekerjaan masih sedikit terasa. Sekitar pukul 06.30 WIB saya sudah tiba di tempat kerja. Terlalu pagi memang kalau untuk ukuran saya dan rekan-rekan karena waktu normal untuk bekerja adalah pukul 08.00 WIB. Suasana masih sepi karena beberapa karyawan masih ada yang cuti. Saya sendiri masih bimbang dengan hal ini. Banyak yang saya pikirkan, tapi sudahlah mungkin jalan terbaik memang dijalani saja, apa adanya.

Teman-teman pun sampai bilang, “Ly, lu pulang nggak sih? Gue pulang, lu masih di sini. Gue dateng, lu juga masih di sini.”

“Ha ha ha… nggak, saya nggak pulang, pak!” kata saya.

Sedang asyiknya mengerjakan sesuatu di kompi, tiba-tiba layar mati. Dan… blue screen muncul lagi. Layar desktop tiba-tiba berubah menjadi warna biru dan ada tulisan peringatan. Beberapa file yang sudah dikerjakan belum sempat saya simpan. Dan saya harus mengulanginya dari awal lagi. Ternyata ada masalah dengan PC saya. Teman saya yang ICT mengatakan bahwa memori yang di dalam PC harus dibersihkan karena kotor. Karena sudah beberapa kali muncul blue screen, akhirnya saat itu juga PC kami bongkar.

Isi PC

Isi PC

Saya baru tahu kalau memori di dalam PC dibersihkan menggunakan penghapus. Kata teman saya, penghapus mengandung elektromagnetik yang dapat membantu membersihkan kotoran pada kuningan yang terdapat di memori. Saya pun diberi tahu kalau nanti terjadi seperti ini lagi, bisa dibersihkan sendiri. Tata letaknya yang dekat dengan prosesor juga memengaruhi kelancarannya. Perlu banyak waktu untuk mempelajari semuanya.

***

Hujan masih turun rintik-rintik ketika sepeda motor saya melaju untuk pulang ke kontrakan. Ya, saya tidak pulang ke rumah. Saya pulang ke tempat adik saya. Sudah satu minggu lebih saya tinggal di tempat adik saya, mungkin sampai beberapa minggu lagi hingga keadaan rumah sudah selesai diberesi.

Melalui jalan raya di kawasan industri, hingga sampai di jalan raya yang mulai padat kendaraan. Berlanjut ke gang sempit yang hanya bisa dilewati oleh satu sepeda motor saja. Bau selokan dan sampah yang saya lewati menambah suasana kumuh di tempat itu. Tapi, begitulah keadaaannya. Menikmati apa yang sedang terjadi dan akan terjadi nanti. Bercerita tentang masalah sampah memang belum ada solusi di tempat itu. Jangankan di sebuah kampung di Cikarang, di Bantar Gebang saja yang menjadi pusat pembuangan sampah terakhir masih belum cukup menampung berjuta ton sampah setiap harinya. Mau dibuang ke mana lagi sampah yang ada di kampung di Cikarang? Akses pengambilan sampah di tempat itu saja masih belum ada. Mungkin kalau saya jadi Walikota Cikarang (halah…) yang pertama saya lakukan adalah membuat tempat pengelolaan sampah. Secara di Cikarang ini banyak kawasan industri, pendapatan daerah juga kan pasti banyak. Kalau bukan untuk kemajuan daerahnya, uang itu mau digunakan untuk apa lagi? Saya saja yang sekarang masih menjadi penduduk pendatang di Cikarang masih kebingungan kalau untuk membuang sampah, meskipun ada petugas sampah yang mengangkut sampah setiap minggunya. Ah, setiap minggunya? Jangankan setiap minggu, mungkin seterusnya pun sampah yang ada di depan rumah saya tak pernah diambil oleh petugasnya karena sudah diwanti-wanti oleh pak RT supaya mereka tak mengambil sampah di depan rumah. Ya, kami memang ada masalah dengan pak RT. Kami memang jarang di rumah karena waktu kami lebih banyak dihabiskan di tempat kerja. Masalah yang sepele sebenarnya. Entahlah, cara pandang setiap orang memang berbeda-beda. Seharusnya sih pak RT tak perlu berbuat demikian kepada warganya. RT adalah Rukun Tetangga. Tugas RT adalah merukunkan tetangga, bukan malah mengajak berantem. Tidak semua orang akan berpikir dewasa bagaimana menghadapi orang lain. Ah, sudahlah.. lupakan masalah itu.

Rasa lelah masih saja menggelayut. Saya pulang pukul 7 malam. Suasana sudah mulai ramai di sekitar tempat tinggal. Anak-anak tetangga sibuk bermain dan bergembira menyambut datangnya tahun baru. Saya sendiri malas untuk keluar kalau untuk sekadar jalan-jalan dan keliling kawasan industri hanya untuk menunggu saat pergantian tahun tiba. Saya memilih tinggal di kontrakan, menutup pintu, bermain laptop, menonton berita dan film, kemudian ketiduran karena lelah dengan keadaan laptop yang masih menyala.

Menjelang pukul 12 malam, tetangga sebelah dan anak-anak mulai berisik. Berteriak menyambut datangnya pergantian tahun. Bunyi petasan mulai ramai. Tidur pun tak nyenyak. Menunggu suara petasan itu segera berlalu.

Pukul 00.00 WIB ( 01 Januari 2014)

Ah, Selamat Tahun Baru!

Akhirnya tahun baru pun tiba, saya masih memejamkan mata tapi tidak tidur. Saya melanjutkan tidur ketika bunyi petasan sudah mulai berkurang, tetangga pun sudah masuk ke kamar masing-masing. Berlanjut di alam mimpi. Entah mimpi apa kemarin, saya sudah lupa.

Tahun baru, bagi saya seperti hari-hari biasa. Tidak ada yang istimewa. Yang berpengaruh bagi saya adalah tahun tutup buku dimana semua laporan harus sudah selesai. Saya memilih tidak masuk ke tempat kerja. Malas sekali. Padahal rekan kami yang dari Malaysia memilih masuk kerja untuk menyelesaikan pekerjannya. Beberapa pesan whatsapp dari teman yang di Malaysia, di Cina mengucapkan, “Happy New Year”. Saya mencoba mengerjakan pekerjaan itu di laptop. Tapi, tidak ada mood untuk mengerjakannya. Padahal keinginan untuk menyelesaikan laporan itu sangat menggebu-gebu. Sekali lagi dikalahkan oleh rasa malas itu. Malas mengalahkan semangat. Atau mungkin saja saya memang sedang stress. Merasakan kangen yang berlebihan sampai saya tak mampu untuk berpikir tentang pekerjaan.

Hanya berdiam di kamar menonton film sampai siang hari, membaca buku perjalanan Agustinus Wibowo yang baru sampai halaman 50. Akhirnya mata ini lelah juga, tidur pun menjadi pilihan.

Sore hari saya pergi ke sebuah mall di Cikarang. Tidak seperti biasanya mall banyak dipadati pengunjung. Untuk parkir saja tidak di dalam area parkir mall. Hanya beberapa meter dari situ ada parkir liar dan tarifnya pun seikhlasnya saja.

Tidak terlalu lama setelah mendapat apa yang kami cari, kami pun pulang. Mendung masih menyelimuti langit Cikarang. Tidak ada warna indah senja yang saya harapkan.

02 Januari 2014

Saya berusaha mengerjakan laporan itu secepatnya. Pekerjaan memang harus diawali dengan niat dan berdoa. Apa pun itu, sesulit apa pun pekerjaan, selama masih berusaha tidak ada yang susah. Hanya beberapa menit saja saya mengerjakan. Laporan itu kemudian saya kirim ke rekan saya di Malaysia. Masih ada lagi.. tapi tunggu nanti, saya mau makan sekarang karena teman-teman sudah teriak menyuruh saya untuk makan..

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: