Cerita akhir pekan

Di luar masih gerimis. Pukul 01.42 WIB dini hari, kami dikejutkan oleh teriakan orang-orang yang sedang patroli di komplek perumahan. Mereka memanggil para pemilik rumah. Kami semua kaget, kemudian membuka pintu. Ternyata di luar air sudah naik. Jalanan sudah tertutup oleh air, tinggal beberapa sentimeter lagi air akan masuk ke rumah. Mereka memberitahukan supaya kami tetap waspada. Takutnya air masuk dari belakang rumah atau dari saluran pembuangan air. Saya sendiri masih kaget karena saat itu saya sedang nyenyaknya tidur. Melihat hal itu tak beberapa lama saya langsung menuju ke kamar untuk tidur lagi. Sembari berdoa semoga air tidak masuk ke dalam rumah.

Hujan yang turun terus menerus dari pagi sampai malam, kemudian berlajut ke pagi lagi. Sudah satu minggu lebih hujan mengguyur Jabodetabek. Hanya sesekali berhenti kemudian berlanjut turun hujan lagi.

Cerita dari rekan kerja yang tempat tinggalnya dekat dengan tempat kerja juga kebanjiran. Air masuk ke pabrik belakang, tapi tidak terlalu tinggi. Yang paling parah di dekat sungai. Air meluap. Jalanan sudah tergenang air sampai setinggi dada orang dewasa.

Sementara ini saya tinggal di rumah adik saya yang lokasinya lumayan jauh karena baru pindahan sekitar seminggu yang lalu. Lokasinya memang bisa dibilang agak susah. Jalanan yang sempit, tempatnya yang kurang teratur, sampah di mana-mana. Saya berangkat dan pulang kerja melalui jalan pintas karena kalau melalui jalan raya biasa akan lebih lama, di samping itu juga karena macet. Jangankan di jalan raya, jalan pintas yang sering saya lalui juga sama, macet juga. Kemarin malah sampai tergenang air.

Derasnya air sungai

Derasnya air sungai

Berangkat dan pulang kerja memang perlu perjuangan. Nasib baik saya bekerja dan tinggal di Cikarang. Ketimbang mereka yang bekerja di Cikarang, tetapi tinggal jauh di daerah Bekasi, Depok, Jakarta. Jauh lebih lama waktu perjalanan mereka. Saya saja yang biasa 10 menit waktu perjalanan dari rumah ke tempat kerja, sekarang harus menempuh waktu yang lebih lama. Sekitar 30 menit sudah termasuk macet untuk menempuh jarak dari rumah ke tempat kerja. Dibanding mereka yang sampai berjam-jam di jalan raya. Yang biasa satu jam sudah sampai ke tempat kerja bisa sampai tiga–empat jam. Itu baru berangkat, belum lagi pulangnya.

Sabtu pagi saya pulang ke rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kami melalui jalan pintas di belakang Kawasan Industri Jababeka IV. Jalan melalui jembatan kayu yang biasa kami lalui ditutup karena tenggelam. Akhirnya kami lewat jembatan satunya. Di jembatan ini juga tertutup air yang mengalir deras. Pelan saja karena masih bisa dilewati oleh sepeda motor.

Jembatan terendam air

Jembatan terendam air

Sampai di dekat komplek perumahan, sawah sudah rata tertutup air. Banyak warga yang mencari ikan. Kami berlalu supaya segera sampai ke rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Yang pasti pekerjaannya berat. Saya beralih profesi sebagai kuli dadakan. Memindahkan batu bata dari bawah ke atas. Lumayan menguras tenaga karena sejak pagi sampai sore kami melakukannya. Lebih dari 1000 pcs batu bata kami pindahkan ke atas. Saya yang bagian menerima lemparan batu bata dari bawah. Kemudian menatanya teratur di atas. Satu sampai tiga jam saya masih kuat. Karena lelah saya istirahat di tempat seadanya. Gerimis juga masih turun di luar.

Dari atas terlihat sawah sudah terendam air

Dari atas terlihat sawah sudah terendam air

Saat istirahat, sesekali iseng melakukan sesuatu di keramik. Melukis ala kadar saya dengan media lantai keramik yang kotor dengan menggunakan jari tangan dan lap basah yang kotor. Hasilnya seperti pada gambar.

Tebak, siapa ini?

Tebak, siapa ini?

IMG_9066

Siang menjelang sore, kami melanjutkan lagi pekerjaan itu. Ternyata stamina saya menurun, beberapa kali lemparan dari bawah, saya terima meleset dari tangan saya. Sedikit lecet di jari tangan. Gerimis turun lagi. Yang ini lebih deras, karena tinggal sedikit lagi, mau tidak mau harus segera diselesaikan. Saya mengenakan helm. Pakaian yang saya kenakan basah juga kena air hujan. Batu bata sudah dinaikkan ke atas semua, tinggal beberapa yang belum disusun karena hujan makin deras. Saya turun ke bawah untuk istirahat dan pulang ke rumah adik saya.

Keesokan harinya, seluruh tubuh terasa ngilu, seperti habis dipukuli. Tulang bagian belakang, kaki, dan tangan pegal. Saya istirahat saja di rumah. Itulah cerita akhir pekan saya yang menyenangkan.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: