Cerita Akhir Pekan (1)

Tek Seng Bio1

Pagi hari setelah sarapan kami bergegas menuju ke bengkel untuk services sepeda motor. Sudah dua bulan ini sepeda motor belum sempat diservices, hanya ganti oli saja. Tak nyaman kalau untuk dikendarai. Sepeda motor saja kalau tak diservices sebulan saja rasanya sudah tak keruan. Apalagi manusia yang setiap harinya berpacu dengan aktivitas.

Sekitar 10 menit perjalanan untuk sampai ke bengkel Yamaha. Tiba di sana beberapa orang sudah mengantri. Kami dapat urutan paling belakang. Tak apalah. Setelah mendaftar, kunci motor diserahkan ke mekanik, kami tinggal ke ATM untuk mengambil uang. Jalan kaki ke ATM terdekat, melewati pasar yang tepi jalan masih dipenuhi sampah sisa aktivitas di pasar tadi pagi. Namanya juga pasar, ya dimaklumi saja. Bau sampah yang menyengat juga sudah biasa di situ.

Setelah kami keluar dari ATM, kami tak langsung kembali ke bengkel. Kami meneruskan jalan kaki ke sebuah klenteng yang letaknya 3 kios dari bengkel. Gerbang bertuliskan Tek Seng Bio menjadi pintu masuk ke dalam. Jalanan di situ sepi karena jalan buntu yang di ujungnya adalah sebuah Klenteng. Sepanjang jalan kami melewati rumah yang dihuni oleh orang keturunan Tionghoa. Rumah yang masih dengan tampilan lawas, beberapa rumah juga sedang direnovasi. Para pekerja menoleh ke kami yang saat itu sedang berjalan.

Sampai di depan Klenteng saya ingin ambil gambar. Tapi, ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk di teras. Saya tak berani minta izin. Sepertinya orangnya garang. Saya penakut, padahal saat itu ditemani suami a.k.a pacar. Lalu saya hanya mengambil gambar dari samping Klenteng dekat jalan raya. Ah, saya memang belum siap untuk menjadi reporter sungguhan. Hihi…

Tek Seng Bio3

Tek Seng Bio2

Hanya sedikit saja saya mengambil gambar kemudian melanjutkan ke arah sebuah bangunan Masjid di ujung jalan sana. Tak terasa sampai ke pintu perlintasan kereta api. Ada bapak-bapak bilang katanya ada mayat di sebelah sana. Saya kira di depan stasiun yang banyak orang berkumpul, ternyata 20 meter dari situ persis di bawah tiang listrik. Sekitar 7 orang berdiri di sekitar situ. Entah, mereka mungkin sedang menunggu, menunggu Polisi datang mungkin. Memang belum ramai orang saat itu. Satu mayat terbujur kaku ditutupi kertas koran dan kantong plastik, sedikit terlihat tangannya karena tersibak angin dari kereta api yang melintas. Kamera saku sudah siap untuk menjepret. Tapi, saya benar-benar tak berani mendekat. Tiga meter dari posisi mayat itu saya mengambil gambar. Hasilnya juga kurang jelas. Saya takut. Pacar memberanikan diri mendekat, ternyata dia kaget karena dia sekilas melihat mata dari mayat itu melotot. Saya merinding sekaligus gemetaran. Mau merekam juga takut. Kalau ada berita seperti itu bisa dijual ke media. Tapi, saya takut. Pacar menyuruh saya untuk tidak merekam dan mengirimnya ke media, takut urusannya panjang dan bermasalah. Iya sih..

Kereta

Itu cerita di hari Sabtu. Hari Minggunya, akan saya ceritakan di postingan berikutnya.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: