Futsal

_MG_9263

Seperti biasa di hari Jumat petang adalah jadwalnya latihan Futsal. Waktunya untuk berolahraga setelah seminggu tak berkeringat karena bekerja di dalam ruang yang lumayan dingin. Ditambah dengan cuaca dingin karena hujan yang ada tiap hari. Jika keringat tak dikeluarkan akan menjadi lemak.

Aktivitas yang monoton seperti duduk terus menerus berjam-jam juga membuat kondisi fisik tidak stabil, gampang sekali ngedrop jika tidak diimbangi dengan pola makan dan hidup teratur. Sebagai contoh, kemarin saya bercerita dengan teman saya yang merasakan sakit di bagian pinggang belakang karena terlalu lama duduk, keasyikkan mengerjakan sesuatu di laptopnya sampai untuk menyempatkan berolahraga pun tidak. Saya juga pernah mengalaminya, karena kurang minum, terlalu lama duduk di tempat kerja, pinggang menjadi sakit. Tidak bagus sebenarnya kalau harus seperti itu setiap hari. Jadi, kadang-kadang saya menyempatkan untuk naik turun tangga ke departemen lain seperti mengantarkan dokumen, meminta ini itu, dan lain-lain supaya tubuh bergerak dan mengurangi pegal.

Selain badan pegal, masuk angin juga menjadi langganan buat saya. Setiap hari saya selalu mengendarai sepeda motor pada saat berangkat dan pulang kerja. Jarang sarapan juga bisa menyebabkan masuk angin. Alhasil, karena terlalu sering masuk angin, seringkali juga saya meminta teman untuk mengerik bagian tubuh saya yang masuk angin. Kalau tak dikerok, rasanya kurang afdol. Dalam ilmu kedokteran sebenarnya itu tidak baik bagi tubuh, tapi ya namanya orang Indonesia, kalau masuk angin ya obatnya dikerokin. Minum obat anti masuk angin juga sudah saya lakukan, tapi kurang gereget efeknya. Kalau masuk angin sampai perut kembung dan eneg, selain minum obat atau dikerokin, saya makan dan minum yang panas-panas untuk mendorong angin keluar dari dalam tubuh. Dan itu seringkali berhasil.

Kembali lagi ke Futsal. Sepertinya saya salah membeli kaos kaki. Kaos kaki yang saya beli terlalu tipis mungkin, atau karena sepatu saya yang terlalu sempit. Hasilnya beberapa jemari kaki lecet dan sedikit terkelupas. Rasanya pedih memang. Sudah beberapa kali ini lapangan yang kami gunakan pindah ke sebelah yang beralaskan rumput sintetis. Sebelumnya kami menggunakan lapangan karpet. Kalau dibandingkan memang lebih bagus lapangan karpet, sayangnya sudah banyak karet karpet yang mengelupas dan rusak serta licin saat basah. Sedangkan di lapangan rumput lebih licin karena menggunakan rumput sintetis. Banyak yang mengganjal dan masuk ke dalam sepatu seperti kerikil yang terbuat dari karet.

Jumat sebelumnya lebih parah lagi. Pada pertengahan permainan saya mencoba ngegolin, sayangnya bola malah membentur tiang gawang. Saat itu juga saya langsung berlutut ke rumput seperti mau seluncur. Luncuran itu membuat lutut saya lecet. Tak saya pedulikan karena saya pikir tidak apa-apa. Beberapa saat kemudian kedua lutut terasa pedih terutama yang bagian kiri. β€œAh, biasa mungkin,” pikir saya. Akhir permainan lutut semakin perih. Saya coba lihat ternyata lutut saya lecet. Ya sudahlah, tak apa namanya juga latihan. Sering berbenturan dengan pemain lawan karena rebutan bola. Toh, mereka sudah paham dengan permainan saya. Lumayan ngegolin beberapa biji. Satu jam penuh saya bermain. Capek? Pasti. Ya, namanya olahraga memang harus begitu. Apalagi kalau olahraganya sesuai dengan kegemaran. Dinikmati saja meskipun lecet dan luka sekalipun.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: