Berkendara yang baik

Apa cerita dalam beberapa hari ini? Yang pasti banyak ceritanya. Eh, saya mengetik sembari menonton pertandingan sepakbola antara tim Pra PON Jawa Tengah dan Timnas Indonesia U-19. Babak kedua dan skor baru 1-0. Timnas Indonesia unggul lebih dulu melalui tendangan ke gawang oleh Maldini Pali. Saya sudah mirip komentator sepakbola, belum? Saya suka menonton sepakbola. Bermain sepakbola apalagi. Bagi sebagian kecil orang, sepakbola mungkin sesuatu hal yang biasa, tidak menarik. Kadang ada yang sampai berpikir, “Untuk apa olahraga macam itu, bola satu diperebutkan oleh banyak orang”. Ya, setiap orang memang punya pemikiran yang berbeda-beda. Dimaklumi saja.

Bagi saya, olahraga tidak mengenal apa pun termasuk sepak bola. Saya sendiri menyukai semua jenis olahraga yang berhubungan dengan bola. Atletik? Atletik saya suka tapi tidak begitu. Dulu zamannya sekolah saya sering menjuarai cabang olahraga atletik. Beberapa kali juara pertama di tingkat kabupaten. Mulai dari Tolak Peluru, Lempar Lembing, Lempar Cakram. Sayangnya tidak ada lempar batu sembunyi tangan. Piagam pun masih saya simpan sampai sekarang sebagai kenang-kenangan. Piala saja yang tidak ada. Ada medali perunggu, hasil kompetisi pencak silat di tingkat kabupaten. Kompetisi paling tinggi hanya sampai tingkat karesidenan. Waktu itu saya hanya satu orang yang terpilih dari sekolah yang mewakili kabupaten untuk mengikuti pertandingan bola volley di Cilacap. Teman-teman yang lain berasal dari beberapa SLTA di daerah kami. Hanya tingkat karesidenan saja, tidak sampai ke provinsi. Cukup sebagai pengalaman. Sampai-sampai karena saya jago olahraga, banyak teman yang iri. Sampai bilang saya adalah anak emas guru olahraga. Begitulah kira-kira.

Tidak semua cabang olahraga saya kuasai sebenarnya. Saya tak pandai berenang. Kalau mau nantangin saya, nantangin olahraga yang lain saja, jangan berenang. Saya hanya bisa gaya batu dan gaya bebas, bebas semau saya. Sejak kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMK, selalu ada pelajaran renang setiap sebulan sekali. Jadi, sudah sekitar 72 kali selama 6 tahun sampai sekarang saya tak pandai berenang. Payah ya? Itulah cerita tentang olahraga saya.

Sebentar lagi pertandingan sepakbola di televisi selesai. Saya masih ingin melanjutkan mengetik di laptop. Baiklah, hari ini saja yang akan saya ceritakan. Cerita lainnya esok saja kalau sempat. Eh, ternyata hari ini saya pura-pura dikangeni oleh teman lama saya. Dulu pernah kerja bareng di tempat yang lama. Dia pura-pura menelepon saya, kemudian kami cerita panjang lebar kali tinggi. Ukuran segitiga dong? Yoi.. Saya juga pura-pura membalasnya. Pura-pura kangen, padahal sebaliknya. Memang ada benarnya kata mbah Sudjiwotedjo ini, “Puncak kangen paling tinggi adalah pada saat keduanya tidak menelepon, tidak berkirim sms, berkirim email. Tapi, diam-diam keduanya saling mendoakan.” Ciyeee…

Salah satunya kami bercerita tentang seseorang yang mengendarai motor tanpa helm. Memang, helm menjadi kebutuhan dan peraturan mutlak di jalan. Apalagi di jalan yang banyak kendaraan. Selama ini sebagian kecil orang mengenakan helm standar supaya tidak kena tilang pak Polisi, bukankah begitu? Di Cikarang sendiri, saya sering menemui orang-orang yang jarang mengenakan helm pada saat berkendara. Apalagi anak-anak kecil yang masih dibawah ABG, sering sekali. Dengan alasan karena jalan mulus, karena jarak yang ditempuh dekat, orang kadang mengabaikan menggunakan helm. Apakah saya pernah melakukannya? Iya, saya pernah. Saya pernah mengendarai motor tanpa mengenakan helm hanya ke warung dekat gang ujung sebelah sana yang jaraknya sekitar 100 meter dengan keadaan jalanan mulus dan sepi untuk membeli air gallon. Kenapa tak minta diantar saja? Ah, sudahlah, merepotkan orang. Toh, kalau masih bisa dibawa sendiri kenapa tidak? Itu kalau saya, kalau anda beda ya silakan saja. Tapi, kalau untuk berkendara di jalan raya keluar komplek perumahan, wajib mengenakan helm. Helm yang saya kenakan berstandar nasional dan berbunyi ‘klik’. Tanda dari helm sudah dikenakan dengan baik dan benar.

Kembali lagi ke topik helm. Jadi begini, memang istilah “Di Indonesia, peraturan memang dibuat untuk dilanggar” itu sudah basi, kalau istilah orang kaskuser/plusser, “Sudah terlalu mainstream”. Kembali lagi ke pendapat dan persepsi masing-masing orang. Kita harus bisa melihatnya dari semua sisi dan semua sudut pandang. Yang pertama, tidak menggunakan helm sangatlah berbahaya. Menggunakan helm saja masih berbahaya, apalagi tidak menggenakan helm di kepala. Helm untuk melindungi otak kita. Kadang ada juga orang yang aneh, malah lutut yang diberi helm. Memangnya otak letaknya ada di dengkul ya? Itulah kenapa ada umpatan, “Otak lu ditaro di dengkul, ya?” Mungkin karena terlalu sering menaruh helm di lutut.

Dulu pernah ada kejadian, dua pengendara sepeda motor bertabrakan. Salah satu menjadi korban dan meninggal di tempat. Di tempat kejadian dia terbaring dengan kepala masih mengenakan helm full face. Karena benturan keras mengenai trotoar, akhirnya tak sadarkan diri, kemudian meninggal.

Yang kedua, peraturan adalah peraturan. Pak Polisi sering menilang orang yang tak mengenakan helm itu wajar. Tapi, tetap saja banyak yang melanggar dan itu dibiarkan saja. Contohnya bapak tukang ojek di Cikarang. Bapak tukang ojek tidak menyediakan helm untuk penumpangnya. Dulu pernah ada, tapi penumpang tidak banyak yang menyukainya karena helmnya tidak memiliki standar helm yang baik. Berbau, kotor, dan tidak berstandar nasional. Tidak hanya helm, melawan arus juga dibiarkan saja oleh pak Polisi. Dengar-dengar sih para tukang ojek ini sudah ada perjanjian dengan pak Polisi. Tidak ada peraturan menilang tukang ojek meskipun penumpang tidak mengenakan helm. Ada razia dari kepolisian pun mereka lolos. Berbeda dengan orang biasa yang lewat dengan salah satu diantaranya tidak mengenakan helm. Pasti kalau ketemu pak Polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas bakalan diberhentikan. Sungguh tidak adil. Padahal keselamatan juga penting untuk penumpang.

Sering juga saya menemui emak-emak yang mengantar anaknya ke sekolah tanpa mengenakan helm. Dengan dandanan menor, memakai perhiasan, mengenakan kacamata hitam dia siap menuju ke sekolah anaknya. Ada juga yang sambil menggendong bayinya. Ya, mungkin saja, dia sengaja ingin mempertontonkan kepada pengendara lain kalau yang naik motor orangnya cakep. Atau mungkin ingin pasang aksi yang lain. Justru yang seperti ini yang membuat saya dan pengendara motor lainnya takut. Takut kalau terserempet atau semacamnya. Kita sudah mengenakan perlengkapan lengkap, di jalan yang benar, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul. Kadang bikin kaget juga kalau sudah begini. Nanti kalau ada apa-apa kita yang disalahkan. Kan repot.

Picture 62671

Menurut survei yang pernah saya lakukan, sekitar 95% pengendara sepeda motor di jalan raya di Cikarang sebagian besar adalah laki-laki. Sisanya perempuan, dan saya termasuk diantaranya. Di jalan raya tidak ada istilah “Ladies first”. Meskipun perempuan, kalau sekiranya jalanan yang dilalui itu macet, pasti perempuan tidak diperbolehkan melintas duluan. Hal ini yang membuat saya kadang kesal. Saya pun tak ingin mengalah. Lebih kesal lagi adalah ketika saya mengendarai motor sport lelaki, kemudian dari belakang ada pengendara motor matic yang selalu menekan klakson untuk mendahului saya. Lalu mendahului dengan tiba-tiba. Mungkin karena iri atau bagaimana, saya pun pada awalnya tak mau mengalah, ingin sekali mengajak berantem. Hanya saja saya perempuan, mengalah adalah jalan terbaik. Satu contoh yang sangat mengganggu sekali di jalan raya.

Saya merasa takut plus deg-degan kalau ada orang yang mengendarai motor tidak menggunakan helm. Apalagi kalau pengendara motornya main nyelonong dari samping, huh..rasanya jantung seperti mau copot saking kagetnya. Takutnya pas saya kaget dan tidak siap, kalau menyenggol sedikit bisa bahaya.

Seperti pada gambar di bawah ini, kebetulan saya ambil pas saya sedang bonceng. Dilihat dari seragamnya sih sepertinya anak SMA. Nah, yang seperti ini yang kadang ngawur kalau bawa motor, nggak pakai helm pula. Ngeri lihatnya. Dan di lokasi ini juga adalah tempat teman kerja saya mengalami kecelakaan. Beliau sudah tiada. (Innalillahi wa inna ilaihi raji’un).

Picture 471

Menjadi orang tua yang bangga dengan anak-anaknya yang masih kecil atau dibawah umur karena sudah pandai mengendarai sepeda motor sendiri adalah contoh orang tua yang bodoh. Kenapa saya katakan demikian? Hal semacam ini tidak sepatutnya diberikan kepada anak. Jangan sekali-kali merasa bangga karena bisa mendidik anak seperti ini. Justru salah. Mengajarkan anak seharusnya sesuai dengan kemampuan dan usianya. Kalau hal semacam ini dibiarkan, bukan hanya keselamatan yang utama, tapi masa depan si anak tersebut. Tidak mengenakan helm, isinya bertiga. Jalan raya itu berbahaya. Saya saja masih selalu waspada dan deg-degan kalau di jalan raya, meskipun jalanan itu sepi. Namanya musibah kan kita tidak tahu. Meskipun kita sudah hati-hati, mungkin dari yang lain bisa berakibat kecelakaan. (Semoga tidak sampai terjadi).

Sepatutnya orang tua yang baik akan memberikan kebebasan untuk mengendarai motor ketika usia si anak sudah dewasa dan cukup untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi dari Kepolisian. Dan seharusnya sepeda motor tidak digunakan oleh anak-anak dibawah umur. Terlalu berisiko. Tapi, kadang orang tua jaman sekarang malah bangga kalau anaknya sudah bisa mengendarai motor sendiri. Saya pernah dinasihati oleh orang, “Jangan sekali-kali memberi kebebasan anak untuk mengendarai motor sebelum memiliki Surat Izin Mengemudi.”

Jagalah anak-anak anda dari hal seperti ini, sama-sama mengingatkan untuk saya dan para orang tua yang lain. Masa depan itu penting. Apa yang sudah terjadi tidak akan bisa diedit lagi. Karena musibah bukanlah sebuah stream yang bisa diedit.

Picture 62436

IMG_8384

Yang ketiga, helm tidak ada hubungannya dengan penutup kepala yang dipakai seseorang untuk mendeskripsikan ‘sesuatu’. Sebagai contoh, mereka mengenakan jilbab, songkok, kopyah, topi, kupluk, caping, baret, sanggul, dan lain-lain dalam mengendarai sepeda motor. Rasanya kalau mempermasalahkan penutup kepala dengan mendeskripsikan ‘sesuatu’ dengan ‘sesuatu’ tidak tepat. Jadi, tak perlu disangkutpautkan dengan hal lain. Toh, intinya meskipun mereka memakai penutup kepala selain helm dalam mengendarai motor, itu berbahaya. Entah kalau suatu saat nanti helm berubah bentuk.

Di peraturan perundang-undangan, helm standar dan berstandar nasional wajib dipakai. Helm juga banyak yang dijual murah dengan kualitas bagus dan berstandar nasional.

Berbicara tentang peraturan di Indonesia memang tidak ada habisnya. Saya memunyai sedikit contoh. Beberapa waktu yang lalu saya bercerita dengan pacar. Bertukar argumen dan pendapat, kadang diselingi debat. Ceritanya dia mendapat telepon dari keponakannya di kampung. Berhentilah sejenak di taman yang terdapat di sepanjang jalan menuju ke arah Lapangan Golf. Kemudian dia dihampiri oleh petugas keamanan (pak security) untuk tetap melanjutkan perjalanannya supaya tidak berhenti bahkan sampai duduk di pinggiran taman. Dulu memang tempat ini selalu ramai, pasti ramai kalau suasana cerah. Dulu kami pernah duduk-duduk di situ juga. Banyak orang yang berkumpul menghabiskan waktu senggangnya bersama pacar, keluarga di taman itu. Sekarang sudah tidak lagi karena dipasang spanduk bertuliskan larangan duduk, berjualan, dan bermain di taman dan sekitarnya.

Karena dia cerita seperti itu, saya hanya bisa tersenyum. Dia bilang agak marah. Tapi, kemudian sadar bahwa yang dilakukannya memang salah. Saya pun menambahi. “Lha, itu kan peraturan dari pengelola sini. Makanya dipasang spanduk dilarang berhenti, duduk, apalagi bermain di taman. Mestinya ya dipatuhi. Itulah makanya Indonesia nggak maju-maju kalau seperti itu. Padahal hanya peraturan sepele. Coba dilihat dari semua sisi. Pengelola kota melarang tempat itu untuk tempat nongkrong, bermain, berjualan karena banyak hal. Tau sendiri kan kalau kita sering lewat banyak yang jualan, terus sampahnya berserakan begitu saja, meskipun ada tempat sampah di situ. Terus rumputnya juga banyak yang rusak. Suasana jadi semrawut. Bikin macet jalan juga. Dipandang pun tak enak. Mungkin juga banyak saran dan masukan dari warga yang melintas di jalan itu. Lalu dari pengelola mulai menertibkan taman dengan menugaskan petugas keamanan untuk menjaga taman.”

Bukan hanya itu saja yang menjadi persoalan. Di Indonesia, eh di Cikarang saja permasalahannya komplek. Perlu kesadaran dari semua pihak untuk membuat suasana tertib, teratur, dan efektif. Jumlah kendaraan semakin hari semakin banyak. Jalan yang dilalui tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang melintas. Jarak tempuh yang biasa saya lalui hanya 20 menit, bisa sampai satu jam karena jalan yang dilalui hanya cukup untuk dua sepeda motor yang melintas dua arah. Kenapa saya bisa mengatakan demikian? Karena hampir setiap hari kerja saya selalu berhadapan dengan hal seperti itu. Banyak berdoa, berhati-hati, mentaati peraturan adalah cara untuk selamat dalam berkendara.

Selain itu kondisi jalan juga banyak yang rusak. Itulah kenapa perbaikan jalan merupakan “Proyek Abadi” di Indonesia. Sedikit cerita dari teman juga dan ini memang benar-benar terjadi. Biaya perbaikan jalan raya terutama yang menjadi jalan utama memang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk mendapatkan proyek tersebut harus ada persetujuan dari berbagai pihak. Sebagai contoh dana yang akan dikeluarkan adalah Rp1 milyar. Kalau tidak salah hanya 60% dana yang digunakan untuk perbaikan jalan. Sisanya masuk ke kantong para pejabat daerah, kontraktor, dan anggota DPRD untuk melancarkan penggelontoran dana dari APBD yang jumlahnya tak sedikit itu. Ya, bagaimana tidak cepat rusak kalau bahan yang digunakan untuk membiayai perbaikan jalan dengan budget minim dan kualitas yang tidak sesuai dengan standar. Kalau sudah begitu, mau tidak mau harus ada proyek lagi. Dan lagi-lagi begitu seterusnya.

Contoh gambar jalan rusak di Desa Jatireja–Cikarang Timur

Contoh gambar jalan rusak di Desa Jatireja–Cikarang Timur

Kalau negara lain seperti Cina bisa bikin tembok besar selama beratus tahun karena tujuannya untuk melindungi dari serangan musuh, di Malaysia bisa bikin tol terpanjang mulus untuk kelancaran pengguna kendaraan roda empat atau lebih. Lain halnya dengan negara Indonesia. Sebagai salah satu contoh adalah perbaikan jalan di Jalur Pantura. Dari mudik bertahun-tahun lalu sampai sekarang masih saja ada perbaikan. Menjelang mudik lebaran baru dikebut ala kadarnya yang penting rata dengan aspal, entah kalau sudah beberapa hari lagi mungkin akan rusak lagi karena yang melewati jalan utama itu bukan hanya kendaraan roda dua saja, akan tetapi bus, truk, bahkan truk tronton yang kelebihan muatan pun melewati jalanan yang tak pernah sepi ini. Ya, meskipun kelebihan muatan dan selalu melewati jembatan timbang seperti di Subang dan Cirebon, tetap saja bisa lolos dikarenakan ada uang pelicin. Ah, Indonesia juara kalau untuk urusan suap menyuap.

Saya sebagai warga negara Indonesia (semoga baik dan benar) merasa heran dan iri melihat fasilitas umum seperti jalan raya ini yang tidak kunjung rapi dan selesai. Apakah karena proyek abadi ini adalah merupakan lahan empuk untuk menyelipkan uang negara? Ataukah hanya proyek biasa yang sengaja dibikin seolah-olah penggunaan uang negara diperuntukkan untuk kepentingan umum?
Dulu saya pernah ngobrol dengan teman saya, dia bilang begini,

“Korupsi di Indonesia tidak akan hilang selama belum ada niat dari orang tersebut untuk mengubah perilakunya. Dan akan berangsur terus menerus kalau kita sebagai orang tua tidak mengajarkan ke anak cucu kita untuk berbuat jujur dan bertanggung jawab.”

Kembali lagi ke pribadi masing-masing orang. Kalau sudah seperti itu, apa yang mau diharapkan dari kemajuan sebuah negara yang katanya sedang berkembang? Belum ada.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: