Pembelajaran

Obrolan sejenak antara saya dan pak Boss,

“Kamu baik-baik ya kerjanya, kalau nanti saya sudah nggak di sini lagi.”
“Maksudnya apa nih pak? Memangnya bapak mau ke mana?”
“Asam urat, mungkin sebentar lagi mati.”
“Eh, pak. Jangan bilang seperti itulah. Mati kan takdir. Tuhan yang menentukan, bukan bapak yang menentukan.”
“Aku sudah tua, ly.”
“Kata siapa sudah tua, bapak masih muda begini kok.”
“Iya, tapi sudah kena asam urat. Jarang olahraga jadi asam urat begini. Sudah tiga bulan nggak olahraga, begini jadinya. Makan sih teratur. Cuma pola hidupnya yang nggak teratur.”
“Tapi, aku lihat sekarang kalian kerjanya sudah bagus. Nggak seperti dulu waktu pertama kali aku datang ke sini.”
“Memangnya kenapa, pak?”
“Dulu itu, aduhh… Sekarang sudah bagus.”
“Ya, kan berkat bapak juga.”
“Nggaklah, aku kan sering marah-marah.”
“Ya, kan pembelajaran pak.”

Kemudian saya berlalu setelah semua dokumen ditandatangani olehnya. Saya paham apa yang dia ucapkan. Saya memang kadang kesal kalau kena marah olehnya. Tapi, saya pikir-pikir lagi apa yang dia ucapkan. Tujuannya baik. Untuk kebaikan saya juga. Saya tidak boleh lemah jika berhadapan dengan orang lain seperti rekan kerja, customer, atau pun supplier. Hanya saja tak semua orang beranggapan kalau itu demi kebaikan. Memang ucapannya kadang kasar. Maklumlah itu menjadi wataknya. Mungkin itu yang menyebabkan beberapa rekan-rekan yang lain tak suka dengan perangainya.

Kesimpulannya dari cerita ini bahwa setiap orang memiliki karakter dan cara yang berbeda dalam menyampaikan apa yang menjadi tugasnya. Dan setiap orang juga memiliki sikap yang berbeda dalam menerima pendapat dan argumen dari orang lain. Tetapi, dibalik sikap dan sifatnya yang berbeda, di situ terdapat tujuan baik yang ingin disampaikan. Jadi, belajarlah memahami kepribadian orang. Berpikirlah yang positif dengan apa yang disampaikan oleh orang lain. Memang butuh waktu lama untuk mempelajarinya.

Saya tak membela dia. Saya memang tak bisa menjadi dia, dan dia juga tak bisa menjadi saya. Tapi, bagaimana posisi kita bila dihadapkan pada posisinya dan berhadapan dengan hal-hal yang lebih besar dan lebih komplek permasalahannya.

Pertanyaan darinya yang masih belum bisa saya jawab dengan tepat sampai sekarang, “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu posisinya menjadi saya, dan melihat staff-nya tidak bisa menyelesaikan pekerjannya?”
Saya pun menjawab dengan menggelengkan kepala, “Tidak tahu, pak.”
Kemudian diam.

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: