Gerimis

Di luar masih gerimis, waktunya pulang karena waktu latihan Badminton sudah usai hanya sampai pukul 20.00 WIB. Keringat masih tetap menetes. Saya baru selesai latihan Badminton bersama rekan-rekan kerja di GOR Bulutangkis yang letaknya sekitar 3km dari tempat kerja. Ya, olahraga itu penting. Olahraga selain supaya menjaga tubuh agar tetap sehat, juga bisa mengurangi stress. Dan itu terbukti, olahraga harus dengan suasana senang. Mana ada orang main Badminton sambil nangis, kan tidak ada. Ya, kan?

Saya tak mengenakan jas hujan karena memang tidak bawa jas hujan. Seorang teman menawarkan saya untuk mengenakan jas hujannya. Saya menolak, toh tidak terlalu deras juga. Masih bisa terlindungi oleh jaket antiangin saya, bukan jaket tolak angin. Pelan-pelan saja mengendarai motor. Jalanan licin karena hujan deras beberapa jam yang lalu. Mampir sejenak ke tempat jualan Tahu Tek langganan saya karena mas pacar ingin dibelikan Tahu Tek super pedas untuk makan malam. Dua bungkus Tahu Tek super pedas, satu tidak pakai lontong, ini untuk saya.

Di tengah perjalanan pulang ke rumah, sebuah sepeda motor bebek dengan seorang anak kecil usia sekitar 5 tahun mendekap erat bapaknya yang sedang mengendarai motor. Jalanan ini sepi, beberapa waktu lalu tetangga saya pernah dirampas sepeda motornya di sekitar jalan yang saya lalui ini. Dihadang oleh enam orang perampok yang usianya masih ABG sambil membawa senjata tajam seperti parang dan golok. Saya memerhatikan anak kecil itu. Takut kalau dia mengantuk. Ternyata dia masih melihat saya yang sedang mengendarai motor di sebelahnya. Anak kecil itu mengenakan kaos putih pendek dan celana pendek hitam. Gerimis masih turun tapi tak deras. Bapaknya yang mengendarai mengenakan jaket.

Jika saya menjadi bapaknya, yang mengendarai motor. Saya tidak akan membiarkan anak kecil itu duduk di belakang tanpa mengenakan jaket. Saya pasti akan menyuruh anak kecil itu duduk menghadap saya di depan kemudian saya tutupi dengan jaket.

Cerita ini mengingatkan saya dulu ketika melakukan perjalanan dari Lembang, Bandung menuju ke Cikarang. Ketika itu saya dan suami menggunakan motor sendiri-sendiri. Anak saya yang usianya masih 3 tahun kala itu ikut saya di motor sport V-ixion milik adik saya. Saat pulang ke Cikarang, hujan masih mengguyur. Saya menaruh anak saya untuk duduk di depan menghadap saya sambil mendekap tubuh saya supaya dia selalu hangat. Jaket saya kenakan di tubuhnya lalu lengan jaket itu saya ikat ke pinggang saya. Kemudian saya lapisi dengan jas hujan. Meskipun dia tidur, dia tetap tenang di dekapan saya.

Waktu perjalanan yang kami tempuh jauh lebih lama dan lebih jauh bila dibandingkan dengan waktu perjalanan berangkat dari Cikarang ke Lembang. Niatnya kami ingin mencoba jalan alternatif lain melalui Subang. Akan tetapi, tak diduga dan tak disangka rutenya jauh. Sekitar 4 jam perjalanan. Mau tak mau kami harus tempuh, karena tak mungkin kami kembali ke jalan semula.

Sering kali saya tanya, “Kamu nggak apa-apa, De?”. Dari balik jaket dia menjawab, “Iya, nggak apa-apa, Bunda.” Satu kali saya mengalami keanehan. Dia melihat sesuatu yang ada di depan sama seperti yang saya lihat, padahal wajahnya tertutup oleh jas hujan. Jas hujan seperti tembus pandang untuknya. Bagaimana bisa? Saat berhenti, saya mencoba melihat melalui jas hujan, tak bisa karena pandangan saya tertutup oleh jas hujan. Dan dia sendiri bisa melihatnya.

Itulah sekilas cerita saya. Bersambung lagi nanti.

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: