Siapa yang peduli?

Siaran langsung sepak bola antara Timnas U-19 Oman vs Indonesia sedang dimulai. Sembari menonton sembari mengetik di laptop. Skor sementara masih imbang 0-0. Yang menarik dari penampilan skuad Timnas U-19 Indonesia adalah penampilan kepala mereka dengan kepala plontos termasuk Pelatih dan Official, ada beberapa pemain yang tidak dicukur plontos yaitu Putu Gede, Maldini Pali, dan Paulo Oktavianus Sitanggang. Mereka yang Muslim baru selesai melaksanakan ibadah umroh di Tanah Suci. Sejauh ini permainan mereka menarik. Adu bola cepat bersaing ketat mewarnai jalannya pertandingan. Itu saja cerita tentang sepak bolanya.

Sebenarnya saya ingin mengetik cerita tentang yang saya tonton tadi di acara Kick Andy di Metro TV. Episode kali ini tentang “Pengamen Jalanan Main Film” yang menghadirkan bintang tamu Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait. Dalam penjelasannya yang sangat bersemangat tentang pengamatannya terhadap anak-anak jalanan memang ada benarnya. Pak Arist mengatakan bahwa dia tidak setuju jika anak jalanan hidup di jalanan kalau negara bertanggung jawab.
Banyak anak-anak perempuan yang bertahan di tengah kerasnya kehidupan jalanan dikarenakan solidaritas mereka yang tinggi terhadap sesama anak jalanan. Mereka saling memberikan subsidi. Sebagai contoh jika ada salah satu teman mereka yang sakit dan belum makan, mereka akan memberi uang untuk temannya yang sakit atau membelikan makanan seperti nasi goreng atau nasi bungkus.

Sehingga hal ini yang membuat anak-anak jalanan merupakan sebuah komunitas perlawanan sosial. Pendekatannya juga harus dengan menggunakan pendekatan struktural. Menggunakan pendekatan manusiawi, bukan pendekatan kriminal. Bukan sekadar penyetaraan sosial karena korupsi terjadi di mana-mana. Kemiskinan struktural terjadi karena korupsi yang banyak terjadi. Koruptor memberikan konstribusi yang signifikan terhadap anak-anak jalanan. Bung Andy membalas dengan mengatakan bahwa koruptor seharusnya dimiskinkan dan disuruh menjadi orang jalanan.

Menurut pak Arist, langkah yang harus dilakukan adalah dengan pendekatan kepada anak jalanan, peran serta masyarakat. Tanggung jawab masyarakat untuk memperhatikan. Anak-anak jalanan merupakan korban politik, korban ekonomi, korban keserakahan, hukuman yang mengakibatkan degradasi kesejahteraan sosial. Apa yang seharusnya mereka nikmati di rumah malah menyebabkan mereka turun ke jalan.
Apa yang harus dilakukan kepada anak-anak jalanan saat masyarakat tidak diperbolehkan untuk memberi uang kepada mereka yang justru malah membuat mereka bertahan lama di jalanan? Dengan cara mendirikan sekolah-sekolah informal untuk anak-anak jalanan. Sistem pendidikan di Indonesia juga tidak mengharuskan anak-anak sekolah hanya di sekolah formal. Memberikan fasilitas yang memadai. Apa yang dilakukan masyarakat harus didukung oleh pemerintah dan ikut serta dalam hal ini. Anak-anak jalanan bisa diselamatkan jika ada kerjasama, kepedulian dari berbagai pihak.

Sedikit saja yang saya tonton dari acara ini. Saya pun memunyai cerita tentang anak-anak telantar yang saya temui di Cikarang. Beberapa waktu di seberang jalan Kalimalang saya melihat sekumpulan anak-anak telantar yang sedang berjalan kaki entah menuju ke mana. Hanya sekilas saja melihatnya karena saya sedang mengendarai sepeda motor, kondisi jalan sedang padat kendaraan. Mereka adalah anak-anak telantar yang sedang berjalan kaki sambil menggendong buntelan yang sepertinya berisi pakaian. Tampilan mereka tak terawat. Saya berlalu saja. Saya tak bisa berbuat apa-apa untuk mereka.

Menunggu di teras minimarket

Menunggu di teras minimarket

Siang hari saat saya selesai makan siang bersama teman-teman, di teras sebuah minimarket di Cikarang Baru, saya mendapati kaki dari seorang anak yang sedang tidur di lantai di balik gerobak pedagang kaki lima. Awalnya saya menduga hanya ada seorang anak saja yang tidur di situ. Tetapi, alangkah terkejutnya saya ketika mendapati di situ ada empat orang anak yang sedang tidur lelap. Tidak ada alas untuk tidur mereka, hanya lantai kotor diapit oleh kedua gerobak kosong yang sekilas tidak tampak oleh orang yang melintas di depan minimarket tersebut dan tak mengira bahwa ada beberapa anak yang sedang tidur. Kebanyakan orang berpikir, “Untuk mengurus diri sendiri saja susah, apalagi mengurus orang lain”. Di kota-kota besar, pemandangan ini mungkin sudah biasa terjadi. Saya tak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Saya mesti balik ke tempat kerja. Hanya bisa mengambil gambar. Membangunkan mereka pun tak sanggup. Kasihan mereka sedang tidur.

Mereka sedang tidur lelap

Mereka sedang tidur lelap

Ironis sekali memang. Ketika di sebuah tempat bernama Kawasan Industri, saat sebelum Pemilu dilaksanakan di sepanjang jalan masih banyak termampang baliho, poster, gambar-gambar caleg di sebelah sana, akankah para caleg ini peduli dengan keberadaan mereka jika sudah terpilih nanti? Untuk mengadukan hal seperti ini pun saya bingung. Mesti diadukan ke mana? Jika Pemerintah Daerah mau peduli, apakah anak-anak yang telantar ini akan mendapatkan perlakuan yang layak?

Selain anak-anak, saya sering menemui orang-orang yang masih terabaikan seperti tunawisma, para pengemis yang selalu standby di depan minimarket, anak-anak kecil dengan memakai kerudung tanpa alas kaki yang selalu mengucap “Assalamualaikum” sambil menyodorkan gelas plastik menunggu orang memberi recehan. Kadang ada yang sampai mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang jahil di sekitarnya. Pernah suatu ketika saya mendapati anak-anak yang sedang meminta, salah satunya adalah laki-laki. Anak laki-laki ini disundut dengan menggunakan puntung rokok yang masih menyala oleh seorang lelaki muda di tempat fotokopi di daerah Cikarang Baru. Anak kecil ini berteriak tidak terima dengan perlakuan lelaki itu sambil mengumpat dan menangis. Kasihan melihatnya. Memang orang kadang tak punya rasa kemanusiaan.

Menunggu di teras minimarket

Menunggu di teras minimarket

Tunawisma romantis

Tunawisma romantis

Menunggu koin

Menunggu koin

Dalam UUD 1945 pasal 34 ayat 1 disebutkan bahwa, “Fakir Miskin dan Anak-anak telantar dipelihara oleh negara”. Tapi, pada kenyataanya tidak seperti itu. Kalau memang benar adanya dipelihara oleh negara, kenapa masih ada anak-anak yang tidur di teras minimarket? Memang benar, urusan negara sudah ada yang mengurusi. Akankah saya atau mungkin anda yang melihat hal seperti ini akan diam saja?

Iklan
Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: